Alternatif Pengganti Mata Pelajaran Agama

Semua murid, termasuk yang pernah menjadi murid, di Indonesia pasti 
pernah mendapatkan pelajaran agama dan moral di sekolah. Dari zaman 
saya menjadi murid hingga sekarang, Agama dan Moral menjadi dua 
pelajaran yang tidak lekang dimakan jaman. Sebagai seorang pemeluk 
agama, saya menganggap pelajaran agama dan moral di sekolah sebagai 
pemborosan waktu, 2 jam pelajaran setiap pekan, dan pemborosan 
anggaran, karena harus membeli buku pegangan, membuat kurikulum 
khusus, dan mendidik tenaga pengajar khusus. Materi yang diberikan pun 
juga lebih banyak berupa pengulangan dari ajaran-ajaran agama yang 
sudah didapatkan murid-murid di tempat mereka beribadah–gereja, 
mesjid, pura, dll. Selain itu, di rumah, anak-anak dan orang tua 
mestinya terkadang melakukan diskusi informal tentang agama mereka. 
Repotnya lagi, pelajaran agama yang diterima murid di sekolah belum 
tentu sesuai dengan ajaran agama yang dianut sang murid. Di sini saya 
tidak bicara tentang murid yang beragama Islam belajar di sekolah 
Kristen melainkan murid Kristen Protestan yang belajar di sekolah 
Kristen Katolik, murid Kristen Advent yang belajar di sekolah Kristen 
Metodis, murid Kristen Episkopal yang belajar di sekolah Kristen 
Baptis, dan lainnya. Itu semua baru murid Kristen belum murid muslim. 
Islam sendiri memiliki banyak aliran. Ajaran Islam menurut NU belum 
tentu sama dengan Muhamadiyah. Dan kita belum lagi bicara tentang 
saudara kita penganut ajaran Buddha atau agama Hindu. Guru yang 
mengajar agama Kristen di sekolah Katolik belum tentu bisa mengajarkan 
nilai-nilai agama Kristen dengan baik apabila ada muridnya yang 
penganut aliran Advent, yang mana punya pemahamannya sendiri.

 Atas dasar itu semua, untuk apa lagi murid belajar agama di sekolah? 
Apa tujuannya? Apakah manfaat yang dipetik, langsung atau tidak 
langsung, dari pelajaran agama di sekolah? Lagipula, pelajaran agama 
dan moral di sekolah tidak memberikan kontribusi nyata terhadap 
perkembangan iman dan perilaku murid-murid di sekolah. Dan ini 
diperburuk oleh keadaan dimana terjadinya kasus-kasus amoral, seperti 
pelecehan seksual, yang bahkan beberapa dilakukan oleh guru mata 
pelajaran tersebut. Sebagai pengganti kedua pelajaran tersebut, saya 
usulkan agar pelajaran etika, filsafat dan logika diajarkan di sekolah

 Pelajaran etika baik untuk diajarkan dan dipelajari karena subyek itu 
mengajarkan tentang tata perilaku dan tata hidup yang baik. Pelajaran 
ini bisa membuat murid mawas diri terhadap norma-norma kehidupan yang 
berlaku di masyarakat. Secara sederhana, etika sendiri sudah lama 
masuk kurikulum sekolah dalam bentuk Pendidikan Jasmani dan Kesehatan 
(Penjaskes), Pendidikan Kewarga Negaraan (PKN), dan Pendidikan 
Kesejahteraan Keluarga (PKK). Lewat Penjaskes, murid belajar bagaimana 
menjalani pola hidup yang sehat bagi jiwa dan raga: belajar tentang 
makanan bergizi (empat sehat lima sempurna), belajar tentang m.enjaga 
kebersihan, mengenali jenis-jenis penyakit serta pencegahannya, 
berolah raga untuk membentuk badan yang lentur dan otot yang terawat. 
Lewat PKN, murid belajar tentang cara menjalani nilai-nilai hidup baik 
sebagai warga negara Indonesia (WNI) sebagaimana yang diatur oleh 
Pancasila dan UUD 1945. Dari PKK (sudah almarhum), murid diajarkan 
untuk mengetahui dan menerapkan nilai-nilai yang berlaku dalam 
masyarakat seperti; sopan satun, tata busana, kebersihan, dan cara 
memasak. PKK juga bisa mengasah kreatifitas mereka lewat kegiatan 
prakarya seperti menciptakan karya seni dengan bubur kertas, membuat 
karya seni kayu, atau memasak. Manfaat utama dari Etika adalah 
membantu murid untuk menciptakan dan mengembangkan sendiri sebuat set 
prinsip etika untuk bekal kehidupan di masa depan nanti. Misalnya, 
seorang murid bisa membuat sebuah set norma kehidupan pribadi yang 
akan diterapkan sebagai pedoman kehidupan pribadinya, dengan kata 
lain, membuat dan mengembangkan sebuah prinsip idealisme yang akan 
menjadi alat untuk mendewasakan dirinya. Atas dasar alasan-alasan di 
atas, Etika menjadi pelajaran penting yang harus dimulai dari tingkat 
SD hingga SMA.

 Filsafat adalah pengganti baik untuk pelajaran Agama karena dapat 
mengugah kesadaran murid akan pemahaman tentang kehidupan seperti 
kebenaran, keindahan, dan lainnya. Dalam pelajaran Filsafat, guru 
memberikan kesempatan pada murid untuk mempertanyakan hal ihwal yang 
berkaitan dengan kehidupan ini. Lewat pelajaran ini, guru mengundang 
murid untuk menjejaki kembali proses berkembangnya ilmu pengetahuan 
yang dimulai dari penciptaan mitos untuk memahami gejala alam raya, 
penciptaan hukum logika, hingga pembuatan teori penciptaan alam 
semesta, Big Bang Theory. Diharapkan, nantinya murid mendapatkan 
pencerahan yang bisa membimbing mereka dalam mempelajari bidang ilmu 
lainnya. Filsafat sendiri adalah ibu dari semua ilmu pengetahuan 
karena setiap subyek ilmu yang ada saat ini berinduk padanya. 
Contohnya, ilmu taksonomi dikembangkan oleh Aristoteles dan ilmu 
kedokteran oleh Hippocrates. Hukum-hukum Fisika dan teori Matematika 
juga memiliki landasan filosofis seperti hukum Archimedes, teori 
Gravitasi dan teori Pitagoras. Manfaat lainnya, filsafat bisa 
mengembangkan pola pikir kritis murid terhadap hal-hal yang ada di 
sekitar mereka sehingga mereka tidak akan menerima mentah-mentah 
segala kebenaran yang disodorkan pada diri mereka. Ini akan berguna 
sekali saat sang murid menjalani kehidupan selepas sekolah. Contohnya, 
guru bisa mengundang murid untuk mengkaji makna dari hal yang benar 
dan salah dalam hidup: apa yang disebut indah? mengapa suatu hal 
disebut indah? siapa yang menganggap hal itu indah? apakah yang indah 
dapat berubah menjadi jelek? apa yang menjadi dasar dari indah dan 
jelek? Berbekal pendidikan ilmu filsafat, murid tidak akan mempelajari 
suatu ilmu di permukaan saja tapi juga aktif mendalami makna yang 
terkandung dalamnya. Karena itu, pelajaran ini baik untuk diberikan 
dari tingkat SMP hingga SMA.

 Logika adalah usulan pelajaran khusus untuk SMA karena subyek ini 
mengajarkan keteraturan dalam berpikir: mulai dari mengamati data, 
membangun sebuah premis, hingga menarik kesimpulan. Logika juga 
membantu siswa untuk mampu membedakan bukti dari kesimpulan. Dengan 
demikian, murid tahu apakah kebenaran yang diberikan padanya sahih 
atau belum. Bagusnya lagi, ilmu Logika akan menunjang pelajaran bahasa 
sehingga bisa murid-murid lulusan SMA akan memiliki keteraturan dalam 
menggunakan bahasa, baik lisan ataupun tulisan. Ada banyak cabang ilmu 
logika dalam bidang akademis, tapi yang paling cocok untuk pelajar 
tingkat SMA adalah Logika tingkat dasar seperti Logika kodratiah dan 
ilmiah–klasik dan moderen, formal dan material serta induktif dan 
deduktif. Sedangkan kajian tentang modus dan proposisi beserta 
silogisme dan penyimpulan disimpan sebagai bahan pelajaran di tingkat 
universitas, karena tingkat kesulitannya yang tinggi. Pelajaran Logika 
tidak dipandang berat karena murid sejak tingkat SMP sudah mendapatkan 
dasar lewat pelajaran filsafat. Logika akan menjadi pemoles bagi 
kecakapan siswa SMU dalam menggunakan nalar mereka. Lewat pelajaran 
Logika, siswa sudah memiliki bekal yang baik untuk menunjang kehidupan 
mereka sesudah lulus SMA di masa depan.

 Dari semua argumentasi atas, terlihat jelas kekuatan dari pelajaran 
Etika, Filsafat dan Logika bagi perkembangan kecerdasan dan kedewasaan 
nalar siswa-siswa Indonesia di masa depan. Dan setelah melewati 
praktek bertahun-tahun denga hasil yang kurang memuaskan, sudah 
waktunya pelajaran moral dan agama dihentikan. Rumah adalah tempat 
pertama dan utama bagi siswa sekolah dalam belajar moral. Sedangkan 
pelajaran agama sebaiknya menjadi wilayah pribadi dari institusi agama 
yang resmi diakui pemerintah. Biarlah gereja, kuil, vihara dan mesjid 
yang memberikan pengajaran baik tentang agama yang dipeluk setiap 
rakyat Indonesia. Guru-guru pelajaran moral dan agama bisa ditatar 
kembali untuk bertugas sebagai guru pelajaran etika, filsafat, dan 
logika. Sarjana-sarjana Filsafat di Indonesia yang menjadi 
pengangguran pun akan mendapat keuntungan karena bekal pendidikan 
kesarjanaan mereka dapat berguna untuk diterapkan dalam mengembangkan 
diri murid-murid Indonesia di masa depan. Untuk semua itu, para remaja 
Indonesia di masa depan akan menjadi generasi yang lebih kritis dan 
memiliki kematangan intelektualitas yang baik sehingga mereka bisa 
diharapkan tidak terjerumus dalam ideologi-ideologi sempit yang 
sodorkan sepihak oleh pihak-pihak yang berpikiran kerdil.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s