Rendahnya Percaya Diri Siswa

Dalam pekerjaan saya sebagai pengajar bahasa Inggris, saya sering mendengar satu keluhan umum dari banyak rekan saya tentang kurang besarnya kemauan murid dalam berbicara di dalam kelas. Manakala guru mengajukan pertanyaan pada murid-muridnya, guru harus menunggu lebih dari tiga menit untuk mendapatkan tanggapan. Terkadang para murid sebenarnya sudah mengetahui jawaban untuk pertanyaan yang diajukan namun mereka tetap saja tidak mau menjawabnya. Lain waktu, para guru mengalami kesulitan untuk menyemangati murid dalam berbicara di kelas. Meskipun guru sudah memberi topik yang menarik, guru masih juga harus menunggu lama sebelum mendapat tanggapan dari muridnya. Kalaupun ada murid yang memberanikan dirinya berbicara di dalam kelas, jumlahnya hanya segelintir–satu atau dua orang saja, jika guru itu beruntung akan ada tiga orang. Murid-murid pemberani ini biasanya adalah mereka yang punya motivasi yang besar dalam belajar, pandai dalam pelajaran bahasa Inggris atau punya pengetahuan mengenai topik yang diangkat.

Hal sepele seperti ini yang kemudian menjadi beban pikiran dan beban pekerjaan dari para rekan kerja saya. Guru sebetulnya tahu bahwa murid mereka bukanlah orang yang bodoh. Sebagian dari mereka tahu apa yang harus dijawab dan bagaimana menjawabnya. Akan tetapi, kebanyakan dari mereka tidak berusaha melakukan apa yang sebetulnya paling diinginkan para guru, bicara. Bukan kelas bahasa namanya apabila tak seorang murid pun di dalamnya yang berbicara. Dan seseorang tidak dapat disebut pandai dalam berbahasa apabila ia tidak mau berbicara. Oleh karena itu, guru-guru kemudian berinovasi dalam usaha mereka dengan menggunakan gambar, filem, lagu, artikel dari sebuah bacaan untuk merangsang minat murid dalam berbicara di kelas. Strategi ini seringkali berhasil baik, bila digunakan dengan tepat. Sayangnya, strategi ini belum tentu berhasil di kelas tertentu. Meskipun para guru tetap bertahan dan terus mencari cara lain untuk mendapatkan reaksi yang diharapkan dari para muridnya, sikap guru terhadap murid, sikap murid di dalam kelas dan latar belakang pengasuhan murid oleh orang tua adalah hal-hal yang memberikan kontribusi pada kekurang percayaan diri murid untuk berani berbicara.

Hambatan pertama terhadap kesulitan murid untuk berani berbicara dalam bahasa Inggris datang dari sikap seorang guru terhadap muridnya sendiri. Tanpa disadari oleh sang guru, sikap dan perilaku dirinya di dalam kelas dapat menghambat murid untuk berani bicara. Guru yang selalu memasang wajah cuka saat mengajar di dalam kelas atau guru yang langsung bermuka asam saat mendengar kesalahan dari ucapan muridnya tidak akan pernah bisa memotivasi muridnya untuk mau berusaha dalam belajar. Guru yang tidak penyabar dalam menunggu jawaban muridnya tidak akan pernah menumbuhkan kepercayaan diri dari murid itu sendiri. Lebih lanjut lagi, guru yang terlalu mudah mencela setiap kesalahan muridnya akan, tanpa disadarinya, membunuh motivasi belajar murid secara perlahan.

Faktor kedua yang menghambat keberanian seorang murid untuk unjuk diri di dalam kelas datang dari dirinya sendiri. Pertama, murid enggan berbicara dalam bahasa Inggris karena ia takut apabila ia membuat kesalahan. Sebetulnya, yang paling dikhawatirkan adalah akibat yang akan terjadi manakala ia membuat kesalahan–menjadi bahan tertawaan teman sekelas atau mendapat celaan dari gurunya. Selain itu, ia sulit untuk mengekspresikan dirinya karena mengalami kesulitan untuk mencari kata atau kalimat yang tepat untuk menyampaikannya. Hal-hal ini yang kemudian membuat murid lambat dalam menanggapi pertanyaan gurunya. Dengan kekhawatiran akan membuat kesalahan, waktu guru untuk mendapat jawaban dari muridnya akan menjadi lebih lama lagi. Uniknya, tanpa disadari guru, murid pandai terkadang tidak mau menunjukan potensi mereka karena mereka khawatir akan celaan dari teman sekelasnya (Drost, 2005). Mereka takut apabila ia selalu berhasil menjawab dengan benar maka teman-temannya akan menganggap dia sok pintar, cari muka dan sebagainya. Karena itu, yang pintar memutuskan untuk diam dan tidak terlalu menonjolkan kemampuan mereka yang sesungguhnya demi “solidaritas” dengan teman sekelas.

Hal ketiga yang menghalangi murid untuk berani berbicara adalah akibat dari pola pengasuhan yang salah oleh orang tua di rumah. Dalam kebiasaan hidup orang timur, ada kecenderungan seorang anak tidak diperbolehkan untuk mengutarakan langsung pikirannya. Tidak seperti orang barat yang terbiasa berbicara langsung ke inti pembicaraan, orang timur banyak melakukan basa-basi sebelum mencapai pokok pembicaraanya. Selain itu, orang muda tidak dibiasakan untuk mengungkapkan isi pikirannya secara langsung terhadap mereka yang lebih tua. Dalam keluarga, inisiatif pembicaraan lebih sering dipegang orang tua dan anak baru angkat bicara bila dimintai komentarnya. Hal ini sudah berlangsung sejak lama dan dibawa secara turun temurun, dari generasi ke generasi. Ini semua dimulai dari dalam semua keluarga Indonesia untuk kemudian terbawa ke ruang kelas. Karena itu mereka memilih menunggu ditanya langsung oleh gurunya daripada memberikan jawaban spontan. Ketidak beranian juga timbul oleh pengalaman di rumah manakala anak membuat komentar spontan yang langsung mendapat celaan pedas dari orang tua. Alih-alih memberikan waktu untuk merenungkan ucapan anak dan kebenaran di dalamnya, orang tua sangat tanggap untuk memberikan kritik pedas pada diri anak. Orang tua lebih sering memberi jawaban “Salah”, “ Bukan begitu”, atau “Tidak” daripada memberikan jawaban yang lebih mendorong semangat; “menarik”, “ide yang bagus”, “kurang tepat”, “hampir betul”, “unik”, “mengejutkan”. Oleh sebab itu, mereka juga kurang berani memberikan jawaban karena takut tidak memuaskan keinginan gurunya.

Ketiga hal diataslah yang selama ini menjadi penyebab lambannya murid-murid di kelas dalam menanggapi pertanyaan gurunya. Akan tetapi, kondisi ini bukannya tanpa penyelesaian. Yang diperlukan untuk memperbaiki situasi pelik para guru di Indonesia adalah kemauan dari pihak-pihak paling langsung terkait dalam situasi ini–orang tua dan guru–dalam melakukan perbaikan. Dalam hal sikap guru, para rekan kerja saya bisa memperbaiki situasi dengan memperbaiki sikap mereka saat mengajar. Menyadari akan kekhawatiran murid dalam menjawab, guru bisa memulai dengan bersikap lebih sabar saat menunggu tanggapan dari muridnya. Biarpun lama, guru sebaiknya menunggu hingga murid itu memberikan tanggapan seperti yang diharapkan. Kesabaran yang ditunjukkan guru akan berimbas baik pada peningkatan kepercayaan murid terhadap guru. Semakin sering ini dilakukan, semakin tinggi tingkat kepercayaan seorang murid pada gurunya dan membuat murid lebih cepat lagi dalam menanggap seperti yang diminta gurunya. Guru juga perlu memberanikan muridnya untuk mencoba berbicara dalam bahasa Inggris. Mengapa takut untuk membuat kesalahan? Membuat kesalahan adalah alamiah dalam proses belajar. Dengan membuat kesalahan, seseorang belajar bagaimana melakukan sesuatu dengan baik. Karena itu guru wajib menegakkan peraturan baru di kelas yang melarang murid bersikap berlebihan atau mencela temannya yang membuat kesalahan. Tentunya guru pun juga harus menyelaraskan peraturan tersebut dengan perilaku pribadinya di dalam kelas. Sebuah kalimat mutiara berbunyi, “Mereka yang tidak pernah membuat kesalahan adalah orang yang tidak pernah belajar hal baru dalam hidupnya.” Orang tua juga harus mengubah pola pengasuhan anak di dalam rumah. Berilah anak kebebasan untuk berbicara lebih banyak. Berikan inisiatif pada mereka untuk berbicara secara spontan. Orang tua juga perlu menghindari sikap spontan dalam menanggapi ujaran anak-anak. Beri waktu sejenak untuk memikirkan atau merenungkan perkataan anak sebelum memberikan tanggapan. Dengan cara ini, anak-anak melihat bahwa orang tua mereka menghargai pendapatnya. Ingat, anak adalah manusia utuh bukan manusia setengah dewasa, meskipun mereka boleh bayar ongkos bus setengahnya (Winarno 1989). Berilah koreksi terhadap ucapan anak yang salah dengan kalimat seperti, “Perkataanmu tadi kurang pantas…”, “Akan lebih baik terdengar kalau kamu mengatakan …”, “Yang kamu katakan tadi mengejutkan, akan tetapi …”, atau “Jawaban yang menarik. Akan jauh lebih bagus bila kamu mengatakan …”. Pada masa kini, kunci dari keberhasilan pengajaran di sekolah dan pendidikan di rumah ada dalam kemampuan untuk saling menyesuaikan diri antara pengajar (Guru) dan murid serta pendidik (Orang tua) dan anaknya. Tanpa penyesuaian diri, akan selalu timbul gesekan. Selain itu, harus ada sikap saling menghargai antara guru dan orang tua dengan murid dan anaknya.

Referensi:

Winarno, B. Seratus Kiat 1: Jurus Sukses Kaum Bisnis. Jakarta: Pustaka Utama Graffiti, 1989.

Drost, J. Dari KBK Sampai MBS, Kumpulan Esai-esai Pendidikan. Jakarta, Penerbit Buku Kompas, Maret 2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s