Penyebab Kecelakaan Sepeda Motor di Pagi Hari

Selama 10 tahun mengendarai sepeda motor, saya seringkali melihat kecelakaan bekendara yang terjadi di pagi hari. Selain terjadi di pagi hari, kecelakaan ini seringkali melibatkan pengendara sepeda motor. Sebagai pengendara sepeda motor, saya sendiri juga pernah mengalami kecelakaan di pagi hari: pernah menabrak sepeda motor tukang roti dan sial kena hantam pintu depan angkot (saya menyalahkan si penumpang yang sembrono buka pintu tanpa melihat ke belakang). Meski begitu, saya masih merasa heran kenapa masih saja ada pengendara sepeda motor mengalami kecelakaan di pagi hari dan tingkat kekerapannya meningkat setiap tahunnya. Seandainya pengendara sepeda motor mengalami kecelakaan di siang atau sore hari, saya memperkirakan ini terjadi karena si pengendara tidak bekonsentrasi akibat keletihan aktifitas dari pagi hari. Jika kecelakaan terjadi di malam hari, ini dapat terjadi karena hambatan daya pandang akibat minimnya penerangan. Akan tetapi, adalah satu hal yang tidak lazim jika pengendara yang masih segar di pagi hari mengalami kecelakaan bekendara. Tentunya, ada juga pengendara sepeda motor yang mengalami kecelakaan akibat ulah orang lain dan ini tidak akan menjadi bahan analisa saya. Setelah merenungkan fenomena ini dan menarik dari pengalaman sendiri, saya menyimpulkan sikap tergesa-gesa, badan yang tidak fleksibel, serta ban dingin sebagai penyebab sementara dari kecelakaan bermotor di pagi hari.

Sifat bekendara terburu-buru adalah faktor pertama yang melatari kecelakaan di pagi hari. Bekendara secara terburu-buru terjadi lantaran banyak pengendara motor yang tidak menjadwalkan kegiatan dengan baik sehingga mereka sering tergesa-gesa saat mengendarai sepeda motor di pagi hari. Karena mereka ingin sampai di tempat tujuan dengan cepat, mereka cenderung untuk memacu sepeda motor pada kecepatan tinggi dan memancing resiko kecelakaan. Dari pengalaman pribadi, saya mengalami kecelakaan di pagi hari akibat mengendarai sepeda motor terlalu cepat karena saya ingin sampai di tempat tujuan dengan cepat. Kecelakaan sepeda motor yang dialami pengendara lain di pagi hari juga biasanya karena si pengendara melaju terlalu cepat. Jalanan dipenuhi pengendara sepeda motor di pagi hari karena mayoritas masyarakat memulai kegiatan di pagi hari. Dalam hal bekendara, seringkali pengendara sepeda motor melaju kencang karena ingin mengejar batas waktu oleh berbagai alasan yang nantinya menggoda pengendara memacu kepatan tinggi. Sayangnya, melaju kecepatan tinggi ini menimbulkan bahaya karena padatnya lalu lintas di pagi hari. Dalam kondisi dimana kendaraan roda 2 dan roda 4 menyemuti jalanan, pengendara sepeda motor memiliki sedikit ruang untuk akselerasi ataupun bemanuver. Mereka yang nekat ngebut di tengah kepadatan lalu lintas berpotensi menyerempet atau menyenggol kendaraan lain, dan akan menimbulkan kecelakaan pada nantinya. Kalaupun mereka tidak menyentuh kendaraan lain, aksi manuver nekat mereka dapat membuat pengendara lain kaget dan berujung pada kecelakaan. Anehnya, kepadatan lalu lintas di pagi hari malah tidak menyurutkan niat pengendara motor yang ingin ngebut di pagi hari.

Badan yang kaku di pagi hari adalah penyebab berikut dari kecelakaan lalu lintas di pagi hari. Meski terndengar konyol, badan yang kaku membuat pengendara sepeda motor terlambat bereaksi saat menghadapi bahaya (hazzard) di jalan raya. Mari kita ingat bahwa saat kita tidur di malam hari, badan kita berada dalam posisi pasif untuk jangka waktu panjang (6-8 jam). Ketika kita bangun di pagi hari, tubuh kita berada dalam kondisi “kaku” dan perlu periode penyesuaian 1 jam bagi seluruh otot motorik tubuh untuk menjadi lentur. Kecuali tentara yang terbiasa berlatih bangun setiap saat, kebanyakan dari kita akan mengalami kesulitan untuk cepat bangun tidur dan langsung beraktifitas. Jadi saya tidak heran kalau kecelakaan yang menimpa pengendara sepeda motor di pagi hari terjadi karena otot tubuh terlambat bereaksi saat merespons situasi tiba-tiba di jalan. Mungkin otot tubuh yang masih “kaku” membuat seorang pengendara sepeda motor terlambat melakukan pengereman ketika kendaraan di depannya melambat atau saat seorang pejalan kaki menyeberang. Mungkin pula otot “kaku” ini juga yang membuat seorang pengendara telat melakukan manuver menghindar saat ia melihat lubang di jalan raya atau saat ia salah antisipasi dengan tikungan di depannya. Seandainya saja otot tubuh berada dalam kondisi yang lentur, si pengendara sepeda motor bisa mengantisipasi perubahan kondisi di jalan raya dengan lebih baik.

Ban dingin adalah kontributor yang sangat berpengaruh pada kecelakaan di pagi hari. Jika Anda menganggap alasan ini lebih konyol daripada di atas, maka saya minta Anda memikirkan pertanyaan ini: Mengapa balap sepeda motor seperti MotoGP dan World Superbike (WSBK) tidak pernah dilakukan pada pagi hari? Mengapa pula balap Roadrace di Indonesia tidak dimulai pada pukul 7 pagi atau 8 pagi?   Saya yakin jawabannya pasti bukan karena faktor siaran langsung televisi (MotoGP dan WSBK). Saya juga percaya alasannya bukan karena peserta dan anggota tim balap belum bangun pada pukul 7 pagi. Oleh karena itu, hindari membuat alasan kalau tidak ada balapan di pagi hari karena orang belum sarapan, belum melek, dan lainnya. Ban kendaraan (apapun jenisnya) akan bekerja dengan baik apabila ia memiliki cengkraman (traction) yang baik. Traction akan terjadi bilamana ban berada dalam suhu kerja yang baik, i.e., panas. Yang saya maksud dengan ban panas adalah kondisi di mana suhu ban meningkat dan ini bisa kita rasakan dengan meraba permukaan ban setelah dipakai bekendara, katakanlah, 10 menit. Gesekan terus menerus dari ban pada permukaan jalan akan meningkatkan suhu ban dan ini akan membuat karet ban sedikit “meleleh”. Kondisi “meleleh” inilah yang akan menciptakan grip (cengkraman) pada permukaan jalan. Inilah sebabnya mengapa di arena balap internasional, kita sering melihat awak tim balap membungkus ban balap kendaraan dengan selimut listrik. Tujuan dari ini semua adalah untuk meningkatkan suhu ban pada tingkat tertentu sehingga ban bisa bekerja baik pada saat balapan dimulai. Di arena balap lintasan lurus (drag), teknik pemenasan ban terlihat saat dragster melakukan aksi burn-out (bakar ban dengan melakukan menggas besar sambil mengerem roda depan. Ini semua bertujuan untuk menaikan suhu ban agar lebih lengket di permukaan jalan. Kita perlu perhatikan juga kalau pada pagi hari, suhu jalan (aspal/beton) masih berada pada kondisi dingin. Jika tidak percaya, taruh telapak tangan di permukaan jalan pada pagi hari dan rasakan suhu-nya. Perlu waktu bagi jalan raya untuk meningkatkan suhu dan ini baru tercapai lewat naiknya suhu udara dan gesekan tercipta dari karet ban kendaraan yang bergesekan di permukaan jalan. Semakin naik suhu udara dan banyak gesekan karet ban, semakin cepat suhu permukaan jalan naik sehingga ini akan membantu ban mencengkram permukaan jalan dengan baik. Sayangnya, banyak pengendara sepeda motor yang tidak menyadari hal ini dan memacu sepeda motor pada kecepatan tinggi di pagi hari dalam kondisi ban masih dingin. Ingat lagi, saat Anda tidur di malam hari, sepeda motor Anda juga “tidur”. Dalam kondisi “tidur” jangka panjang, suhu ban juga turun menjadi dingin (karena tidak bergesekan dengan aspal/beton). Ditambah dengan suhu malam hari yang rendah, penurunan suhu ban menjadi semakin cepat. Karena itu, wajar saja bila sepeda motor terasa tidak melaju cepat di pagi hari karena ban belum berada pada suhu kerja optimal. Jika pengendara sepeda motor tetap memaksakan laju kendaraan dalam kondisi ban dingin, ia akan mengalami gejala ban licin yang beresiko spin saat akselerasi kuat. Ketika si pengendara berada dalam tikungan dan tetap melakukan akselerasi kuat, gejala spin akan mengakibatkan slide (tergelincir). Seandainya ban sudah berada dalam kondisi aus (mengalami kebotakan), efek spin akan terasa lebih hebat lagi. Saya paham sekali apabila kecelakan sepeda motor di pagi hari juga sering terjadi akibat suhu ban dingin sulit berakselerasi di tikungan atau sulit direm. Efek ban licin adalah imbas dari traksi yang kurang karena suhu ban yang masih rendah (setelah “tidur” semalaman). Inilah yang mungkin menjadi alasan mengapa balap sepeda motor baru dimulai menjelang siang (pukul 9 pagi).

Karena keinginan buru-buru, badan “kaku”, dan ban dingin menjadi penyebab kecekaan sepeda motor di pagi hari, maka setiap pengendara sepeda motor memperhatikan ketiga hal ini sebelum melakukan perjalanan. Dari pengalaman pribadi, saya memberikan tiga saran untuk menghindari kecelakaan di pagi hari. Pertama, Anda HARUS merencanakan kegiatan Anda di pagi hari. Jika Anda harus tiba di tempat tujuan jam 7 pagi, Anda HARUS berangkat dari rumah 1 jam sebelumnya. Jika tempat tinggal Anda jauh, Anda HARUS berangkat 1,5 jam atau 2 jam sebelumnya. Ini perlu dilakukan supaya Anda terhindar dari aksi ngebut di jalan raya. Setuju atau tidak, saat orang terlambat ia akan berada dalam tekanan psikologis untuk bergerak cepat. Di jalan raya, tekanan psikologis ini akan menjadi aksi ngebut dan manuver berbahaya demi mencapai tempat tujuan tepat waktu. Untuk mengatasi badan “kaku”, saya menyarankan agar Anda melakukan aktifitas peregangan badan (warm-up) selama 30 menit. Manfaat dari kegiatan ini adalah lenturnya otot tubuh yang kaku setelah diam selama >6 jam. Saat otot tubuh lentur, Anda akan lebih cepat merespons kondisi lalu lintas di jalan raya manakala terjadi perubahan drastis. Akan lebih baik lagi, jika Anda melakukan kegiatan olahraga seperti jogging atau lompat tali sesudah peregangan badan karena kegiatan tersebut akan memacu jantung Anda berdenyut lebih cepat, i.e., membuat Anda lebih siap dalam memulai kegiatan di pagi hari. Dalam menghadapi kondisi ban dingin, saran terbaik saya adalah mengendarai sepeda motor pada kecepatan menengah (50 kmj) selama 15 menit untuk meningkatkan suhu ban dan menghindari akselerasi kasar. Anda bisa saja membungkus ban dengan selimut listrik di malam hari atau melakukan burn-out sebelum berangkat, namun saya meragukannya mengingat kebanyakan pengendara sepeda motor tidak memiliki selimut listrik dan burn-out akan menghabiskan kompon karet ban. Jadi, kendarailah sepeda motor pada kecepatan menengah selama +15 menit agar suhu ban meningkat dan daya cengkram bertambah. Jika ban sudah berada dalam suhu kerja optimal, barulah Anda bisa memacu kecepatan lebih tinggi atau melakukan akselerasi kuat. Tentu saja, ketiga saran ini bukan jaminan Anda akan terhindar dari kecelakaan karena satu saran lagi yang lebih penting adalah, Ber-Hati Hati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s