Jangan Golput Jika Ingin Perubahan

Pemilu tinggal seminggu lagi. Untuk gelombang pertama, rakyat Indonesia akan memilih calon legislatif guna mengisi kursi DPR pusat, DPRD 1, dan DPRD 2. Dalam Pemilu tahun 2009, kita akan menghadapi model pemilihan yang berbeda. Jika dulu rakyat memilh gambar partai untuk kursi DPR dan memilih langsung untuk Presiden dan Wakil Presiden, kali ini rakyat akan memilih langsung calon legislatif (caleg) pilihannya sendiri sementara pemilihan Presiden dan Wakil Presiden tidak berbeda dengan tahun 2004. Permasalahannya sekarang, banyak orang yang merasa kebingungan dengan model pemilu legislatif langsung yang mana ini dikarenakan minimnya informasi yang tersedia bagi rakyat untuk membuat penilaian mengenai caleg yang akan dipilihnya di Pemilu nanti. Lebih parah lagi, banyak pula anggota masyarakat yang mulai apatis terhadap Pemilu 2009 karena kecewa dan kesal dengan tingkah laku menjengkelkan dari anggota DPR yang terungkap keterlibatannya dalam kasus korupsi, aksi penyuapan, perbuatan asusila, dan lainnya. Hal ini yang kemudian menimbulkan wacana dimana sekelompok warga negara Indonesia memutuskan untuk mengambil langkah golput, Golongan Putih. Golput adalah sikap dimana seseorang memutuskan secara sadar untuk tidak ikut serta dalam Pemilu. Alasan mereka sudah diungkapkan di atas dan beberapa lainnya memiliki alasan pribadi, misalnya kalah dalam kepengurusan partai. Diantara mereka yang memilih GolPut, beberapanya adalah teman saya. Seorang teman saya yang memilih GolPut bahkan sampai membuat pernyataan di dalam akun Facebook-nya, “GolPut is my fucking right.” Yep, it’s your fucking right and I respect thatEven so eh bagaimanapun juga, saya menganggap sikap GolPut sebagai sikap yang tercela oleh karena enam alasan.

 

Pertama, sikap golput adalah pengabaian terhadap hak dasar warga negara Indonesia (WNI). Sebagai warga negara, hak kita untuk berpendapat dijamin oleh UUD. Dalam hal Pemilu, setiap warga negara memiliki hak untuk bebas menentukan partai atau caleg pilihan pribadinya. Jika seorang WNI memutuskan untuk tidak memilih maka ia telah abai terhadap hak yang telah diberikan oleh pemerintah dengan begitu murah hati. Sungguh disayangkan manakala seseorang memilih untuk golput di jaman reformasi ini sementara pada jaman orde baru tata cara memilih diatur sedemikian rupa sehingga langkah golput adalah sama denganmadesu, masa depan suram. Dulu Anda mengeluh ketika hak untuk berbeda pendapat dibatasi oleh pemerintah. Sekarang Anda memilih absen saat pemerintah sudah memberikan kebebasan yang luas untuk berpendapat.

 

Sikap golput adalah sikap seorang pesimis. Anda boleh saja membantah sesuka hati namun saya tetap menganggap siapa saja yang memilih untuk golput adalah manusia yang tidak optimis. Orang yang optimis harusnya selalu penuh harapan dan semangat. Mereka yang tidak punya keyakinan dalam hidup masuk golongan pesimis. Jika belum Pemilu saja sudah mengambil sikap golput, maka Anda sebetulnya telah menyerah sebelum kompetisi berakhir. Boleh saja kecewa dengan kondisi bangsa saat ini dan tingkah laku para anggota DPR tapi ini janganlah hal tersebut dijadikan alasan untuk tidak mengikuti Pemilu tanggal 9 April nanti.

 

Sikap golput justru menunjukan dengan jelas ketidak pedulian seseorang terhadap kondisi bangsa saat ini. Jangan sebut diri Anda sebagai warga negara yang peduli pada bangsa jika dalam Pemilu justru memilih untuk abstain. Kepedulian terhadap Ibu Pertiwi tidaklah cukup sekedar ditunjukan dengan menyanyikan Indonesia Raya, mengikuti upacara bendera, membayar pajak, dan lainnya. Ikut serta dalam Pemilu juga mencerminkan tingkat kepedulian Anda terhadap masa depan negara ini. Saat ini adalah saat krusial dimana kepedulian Anda pada teman-teman warga negara Indonesia dan Ibu Pertiwi diuji. Terlihat munafik apabila seseorang bicara panjang lebar mengenai langkah-langkah yang harus diambil untuk memperbaiki kondisi bangsa tapi pada saat Pemilu tiba orang itu tidak menggunakan haknya. Jadi orang tersebut cuma omdo.

 

Golput adalah langkah tercela karena berpotensi untuk memunculkan anggota legislatif dan presiden serta wakil presiden (wapres) yang salah. Contoh paling baik mengenai hal ini adalah Presiden Iran saat ini. Ahmadinejad terpilih sebagai presiden Iran saat ini gara-gara 40% warga negara Iran mengambil langkah golput pada pemilu presiden 2005. Ini terjadi lantaran rakyat Iran kecewa karena partainya Khatami belum dapat menemukan calon penggantinya sewaktu masa jabatan Khatami sebagi presiden berakhir. Tidak ada calon pengganti Khatami yang cukup kredibel di mata rakyat Iran. Karena itu daripada memilih kucing dalam karung, sebagian rakyat Iran, 40%, memilih untuk golput. Tentu saja ini menguntungkan Ahmadinejad. Di mata kelas menengah, kaum wanita dan kaum pelajar, Ahmad sama sekali tidak berterima karena dia anti-reformis. Kombinasi dari sikap GolPut dan tiadanya lawan kompetisi yang sebanding membuat dia terpilih sebagai presiden Iran saat kini. Hal ini kemudian disesali oleh banyak orang Iran lantaran masa kepresidenan Ahmad justru lebih buruk dari Khatami. Jika sebelumnya mahasiswa menikmati iklim kebebasan intelektual, dapat berdemonstrasi, kini mereka justru ditindas oleh Garda Revolusi, barisan pendukung Ahmad. Kondisi ekonomi Iran yang cukup baik pada masa lalu sekarang malah memburuk. Jika kaum wanita Iran menikmati banyak kebebasan sebelum tahun 2005, sekarang kaum wanita kembali lagi tertindas hak-haknya, bayangkan seorang pria ditunjuk untuk memimpin badan negara yang mengurus peranan wanita. Daripada mengurus situasi dalam negeri, Ahmad justru sibuk dengan politik mercusuarnya di luar negeri. Itulah bahayanya sikap golput. Hal ini juga terjadi pada rakyat Amerika Serikat. Sikap golput justru membuat Bush memerintah lebih lama lagi.  Orang yang salah terpilih untuk duduk tempat yang salah. Tahun 2008 kemarin, rakyat AS memilih untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.

 

Golput adalah langkah kontraproduktif terhadap embusan hawa perubahan yang sedang berlangsung. Anda ingin perubahan? Datanglah ke TPS pada Pemilu nanti. Perubahan akan terjadi bilamana Anda juga terlibat didalamnya. Jika Anda menghindar maka aksi perubahan tidak akan pernah terlaksana secara paripurna. Sungguh aneh melihat seseorang berteriak-teriak mengenai perubahan namun dirinya sendiri tidak mau terlibat dalam upaya menuju perubahan itu sendiri. Saya pernah mendengar sebuah kalimat mutiara yang berbunyi, “Mereka yang tidak ikut serta dalam aksi perubahan tidak memiliki hak untuk mengeluh”. Masuk akal sekali. Dalam kondisi negara yang tidak menyenangkan saat ini banyak orang Indonesia yang mengeluh dan menginginkan perubahan. Kaum pekerja ingin agar gaji mereka dapat naik. Orang tua ingin agar biaya sekolah menjadi lebih murah. Mahasiswa ingin agar harga-harga barang kebutuhan hidup turun. Mengeluh dan mengeluh saja tidak akan mengubah keadaan. Dibutuhkan sebuah aksi, sekecil apapun itu, untuk mewujudkan suatu perubahan. Boleh saja bersikap golput dan berpendapat bahwa bukan Anda yang rugi apabila orang yang salah terpilih sebagai anggota DPR atau Presiden RI. Jika hal demikian yang terjadi, saya melarang Anda untuk mengeluh apabila kondisi negara memburuk. Kenapa? Lah, ada kesempatan untuk berubah Anda malah golput. Kok masih mengeluh? Dengan mengambil sikap golput Anda sudah siap dengan konsekuensi untuk menerima hasil apapun. Toh, meskipun golput, Anda juga yang akan menikmati kalau terjadi perbaikan kondisi kehidupan dari hasil Pemilu nanti. Anda tidak ingin negara ini bernasip serupa dengan Iran atau AS bukan?

 

Sejarah sudah memberikan dua contoh mengenai apa yang terjadi apabila sebagian besar rakyat suatu negara memilih untuk golput, lihat Iran dan AS. Perlukah Indonesia ikut tercatat dalam sejarah oleh karena hal serupa? Saya tidak tahu apakah suara yang saya berikan tanggal 9 nanti akan memberika perubahan seperti yang saya inginkan atau berbeda jauh dari harapan saya. Apapun hasilnya nanti, saya tetap merasa bangga karena sebagai warga negara saya sudah menunjukan kepedulian dan tanggung jawab terhadap masa depan Ibu Pertiwi. Kalau sejarah mengajarkan kita sesuatu, maka kita tahu bahwa masa kini dibentuk oleh apa yang terjadi di masa lalu. Ini dapat diparalelkan dengan masa depan. Masa depan negara ini tergantung dari keputusan yang kita ambil hari ini.  

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s