Ulasan Buku: 300

Tahukah Anda akan filem 300? Penggemar filem ini pastinya tahu kalau filem ini diangkat dari novel grafis buah karya Frank Miller. Tapi belum tentu semua tahu bila kisah pertempuran heroik orang Sparta ini sebelumnya telah diangkat ke layar lebar di tahun 70’an. Dalam sebuah wawancara televisi, Frank Miller mengatakan bahwa novel grafis karyanya diinspirasikan oleh pengalaman masa kecilnya ketika menonton filem The 300 Spartans. Pengalamannya ini terbawa hingga dewasa dan ketika ia memiliki kesempatan ia pun mengangkat Pertempuran Thermopylae sebagai tema untuk novel grafisnya. Novel grafis ini diterbitkan oleh Dark Horse Book pada tahun 1998 dan telah mengalami cetak ulang sebanyak tiga kali. Cerita ini kemudian diangkat ke layar lebar dengan judul yang sama pada tahun 2007 dan mencetak sukses luar biasa di seluruh penjuru dunia sekaligus melontarkan karir dari sutradara filem Zack Snyder. Sebagai dampaknya, tiba-tiba orang-orang mengemari hal-hal yang berkaitan dengan Sparta, sejarah dan kebudayaanya. Pencarian terhadap sejarah pertempuran Thermopylae menjadi topik utama dalam mesin pencari Google. Meskipun versi filemnya telah dibuat dengan hasil yang luar biasa, novel grafis karya Frank sangat dianjurkan untuk dibaca karena perbedaan menarik dari segi rincian cerita, penggambaran, dan gaya tutur antara versi komik dan layar lebar.

Perbedaan menarik pertama ialah penambahkan rincian-rincian cerita yang tidak ada di dalam komik. Ini dikarenakan cerita dalam komik sangat sederhana. Jika naskah filem dibuat setia dengan komik, filemnya akan menjadi pendek. Sebagai contoh, semua karakter di dalam komik tampil di versi filem, mulai dari Leonidas hingga Ephialtes. Tapi, karakter senator Sparta yang pengkhianat tidak ada di dalam komik. Karakter istri dari Leonidas juga hanya ditampilkan sekali di dalam komik, tidak sebanyak dalam versi filem. Contoh lain, adegan istri Leonidas berpidato di hadapan majelis Sparta tidak dapat ditemukan dalam komik novel. Adegan kala Leonidas melatih anaknya bertarung di bak pasir sama sekali tidak tersua di dalam novel grafis. Bila di komik hanya terdapat pasukan gajah menyerang tembok manusia Sparta, maka di filem ada pula adegan ketika badak mencoba menerjang pasukan Sparta, untuk kemudian mati ditombak Stellios. Meskipun begitu, versi filem berhasil menampilkan. rincian yang bagus dan luar biasa dari adegan pertempuran yang ada di dalam komik. Adegan ketika pasukan Sparta menahan pasukan Persia di koridor sempit tergambar dengan sempurna. Begitu juga saat pasukan Sparta mendesak pasukan Persia hingga terjungkal dari tebing ke dalam laut yang menggelegak.

Bagian menarik yang kedua adalah penggambaran orang Sparta dalam komik yang sedikit berbeda dengan versi filem. Suasana getir dan guram sangat terlihat dalam guratan garis gambar dan sapuan warna di seluruh halaman. Garis-garis gambar di dalam novel ini sangat tajam dan tegas. Ekspresi wajah dari seluruh karakter prajurit Sparta terkesan keras, serius, dan cenderung muram. Ini berbeda dengan versi filem yang mana para aktor menunjukan raut muka serius, keras dan percaya diri. Selain itu, otot-otot dari para orang Sparta tidak dilukiskan terlalu menonjol seperti yang terlihat di filem. Ada dugaan kalau otot yang terlihat dari diri para aktor filem adalah hasil dari penerapan lukis badan, body painting. Apabila orang Sparta di filem memiliki rambut gondrong sebahu, di dalam komik mereka justru memliki rambut gondrong yang panjang hingga ke punggung. Perbedaan yang paling mencengangkan adalah cara berpakaian orang Sparta. Dalam filem, pasukan Sparta digambarkan hanya mengenakan celana pendek dari kulit dan bertelanjang dada. Di lain pihak, versi novel grafis justru menunjukan kalau pasukan Sparta terkadang telanjang penuh dan hanya membawa tombak, pedang serta perisai. Dalam komik, pakaian lengkap hanya dipakai saat maju berperang. Seandainya pembuat filem memilih untuk setia penuh pada cerita di novel grafis, bisa jadi filem 300 akan mengalami banyak sensor dan bahkan tidak akan pernah masuk ke Indonesia. Sapuan warna yang menghiasi seluruh gambar juga tidak sehalus dalam versi filem, simbol bahwa pertempuran Thermopylae bukan untuk kemenangan tapi untuk keagungan. Warna coklat keemasan yang memenuhi seluruh adegan filem terlihat pula dalam komik, tentunya dalam bentuk yang lebih sederhana. Berbeda dari filem, warna yang dipakai dalam komik lebih pudar. Aspek pencahayaan dalam komik juga lebih temaram dari versi layar lebar. Ini menyiratkan kegetiran dari hasil akhir pertempuran yang sudah diduga sejak awal.

Mengenai gaya tutur, Frank Miller menggunakan gaya tutur naratif dengan sedikit teknik kilas balik. Berbeda dengan versi bioskop, cerita di komik diawali dengan adegan long march yang dilakukan Leonidas dan seluruh anak buahnya menuju Termopylae. Di antara gambar terdapat narasi-narasi pendek yang nampaknya dituturkan langsung dari mulut Dillios, yang juga muncul dalam versi filem. Bahasa yang digunakan orang Sparta termasuk unik karena walaupun terkesan menggunakan bahasa yang indah, kalimat yang dipakai justru pendek dan tegas. Terkadang ada penggunaan kalimat pasif atau kalimat yang dibalik, Subyek di taruh di belakang Predikat dan Obyek, mirip dengan kalimat dari karakter Yoda, Master Jedi dalam Star Wars. Sepertinya Frank Miller mencoba meniru gaya tutur lakonik; gaya bertutur dalam kalimat pendek, terkadang dengan makna tersirat, namun langsung menuju ke sasaran. Sedangkan bahasa yang dipakai oleh karakter-karakter orang Persia justru berbunga-bunga dan berbentuk kalimat panjang. Yang istimewa, beberapa kata dalam setiap kalimat mendapatkan penebalan (bold). Terkesan Frank menginginkan pembaca novel grafis ini untuk memusatkan perhatian pada kata-kata yang ditebalkan saja, tidak perlu membaca seluruh kalimat. Atau bisa juga ini adalah cara si penulis untuk menunjukan penekanan intonasi dari ucapan-ucapan yang keluar dari mulut setiap tokoh.

Pada akhirnya, Xerxes dan seluruh tentaranya memenangkan pertempuran di pinggir teluk setelah bertempur selama tiga hari. Namun, dia harus membayar mahal untuk kemenangan tersebut, 20.000 tentaranya tewas. Di pihak Yunani, 4.700 prajurit gabungan tewas. Leonidas beserta 299 anak buahnya gugur dengan mengenaskan. Pertempuran ini menjadi bukti nyata bahwa hasil latihan keras, keunggulan strategi, dan pemanfaatan kontur medan perang dapat mengatasi keunggulan kekuatan lawan yang lebih besar. Sejarah mencatat, meskipun Xerxes memenangkan pertempuran, ia tidak lagi memiliki kekuatan penuh untuk melanjutkan perang menghadapi seluruh tentara Yunani yang masih banyak dan dalam keadaan segar. Xerxes, mengikuti langkah ayahnya Darius I, terpaksa harus mengubur ambisinya untuk menguasai Yunani. Komik 300 dalam penilaian saya menjadi laksana story board bagi Zack Snyder dalam pembuatan filemnya. Zack sangat diuntungkan dalam hal ini karena ia tidak perlu bersusah payah membuat gambaran dari adegan-adegan yang akan ia buat dalam cerita. Hampir semua yang ada di filem sudah ada di komik. Zack cuma perlu menambahkan bumbu cerita dan karakter sedikit saja. Bagi penggemar fanatik filem 300, novel grafis karya Frank Miller sangat direkomendasikan untuk dibaca atau dimiliki karena bentuk cerita, format dan gaya tutur yang mengesankan. So, come and get it!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s