Ulasan Buku: The Alchemist

Dalam bagian terakhir dari novel The Pilgrimage terdapat suatu adegan di mana Coelho berpisah dengan mentornya, Petrus. Dalam adegan itu, Petrus bercerita bahwa mengenai perjalanannya saat mencari pedang pribadinya seperti yang dialami oleh Coelho. Setelah mendapatka pedangnya, Petrus kemudian membuat lukisan sebagai bahan renungan mengenai perjalanannya kala itu. Kepada Coelho, Petrus menyarankannya untuk melakukan hal yang serupa. Setelah menapak tilasi jalur ziarah San Tiago, Paulo menulis novel The Pilgrimage, yang merupakan sebuah memoar pribadi. Dan setelah itu, ia menulis novel yang mengangkatnya ke jajaran penulis kelas dunia, The Alchemist. Novel ini menjadi bahan renungan pribadinya terhadap perjalanan ziarah yang dulu ia lalui sepanjang jalur San Tiago.

Secara umum, tema dari novel ini adalah sebuah perjalanan untuk meraih impian. Topik yang diangkat adalah usaha seseorang untuk meraih keberhasilan dalam hidup tidak bisa lepas dari berbagai rintangan berupa masalah ataupun cobaan. Sepertinya ini adalah hal lama bagi kita yang sudah dewasa. Meskipun begitu, Paulo mampu mengemasnya menjadi sebuah bentuk kisah perjalanan yang luar biasa sehingga siapapun yang membacanya akan terbakar oleh gairah dan inspirasi setelah menyelesaikan novel ini. Memang, orang yang telah membaca novel in mengakui bahwa novel yang satu ini sangat inspiratif dalam hidup mereka.

Tokoh utama dalam cerita ini adalah Santiago, seorang penggembala domba di daerah Spanyol. Suatu ketika, ia bermimpi diman seorang anak kecil menyuruh dia untuk menyebrangi laut dan pergi ke piramida di Mesir, dimana nantinya ia akan menemukan harta. Terganggu dengan mimpinya, Santiago kemudian pergi menemui seorang wanita Gipsi untuk mengartikan mimpinya tersebut. Wanita kemudian menyemangatinya untuk pergi ke Mesir dengan imbalan berupa pembagian sepersepuluh dari harta yang akan didapatkan Santiago. Heran dengan penawaran itu, dia kemudian memutuskan untuk mengabaikan mimpinya dan terus melanjutkan kehidupan sebagai penggembala domba. Ia bercita-cita mengumpulkan uang sampai ia bisa menikahi anak perempuan pemilik toko langganannya. Dalam perjalanannya kemudian, ia bertemu dengan seorang tua yang mengaku sebagai raja Salem, Melchizedek. Mendengar cerita Santiago, dia ikut membujuk si penggembala lugu ini untuk mewujudkan apa yang telah ia lihat dalam mimpinya. Seperti halnya wanita Gipsi, raja Salem meminta Santiago untuk menjual seluruh dombanya dan memberikan sepersepuluh dari uang penjualan kepadanya. Sebagai balasan, Santiago mendapatkan dua buah batu kecil, Umim dan Thummim, yang akan membantunya apabila ia menemui kebimbangan.

Setelah melewati kebimbangan, ia akhirnya melepas semua domba yang dimilikan dan pergi menyebrangi lautan hingga pantai Afrika utara,. Sesaat setelah ia mendarat, dia dengan cepat kehilangan uangnya, terjebak tipu muslihat seseorang, dan terpaksa harus pergi bekerja di sebuah kedai kecil untuk mengumpulkan uang agar ia dapat melanjutkan perjalanannya. Setelah ia berhasil melanjutkan perjalanan, hadangan kembali lagi muncul di hadapannya. Dimulai dengan ketika ia dan rombongan perjalanannya dihadang oleh kelompok bandit di gurun pasir dan pertemuannya dengan sang Alkemis. Dari perkenalan singkatnya, ia kemudian mempelajari mengenai apa dan siapa sesungguhnya ilmu Alkemis itu. Di tengah perjalanannya pula, ia kemudia bertemu dengan seorang wanita padang pasir, Fatima, yang kemudian menjadi tambatan hatinya. Pendek kata, setelah melalui berbagai cobaan, Santiago berhasil menemukan hartanya yang kemudian menjadi legenda pribadinya, a personal legend.
Tema utama dalam novel ini adalah cita-cita pribadi, dikiaskan dengan istilah Pesonal Legend. Setiap orang di dunia ini memiliki legenda pribadi. Dengan mewujudkan legenda pribadi, seseorang dapat menemukan kesuciannya. Tentu saja, mewujudkan hal tersebut tidaklah semudah mengatakannya.

Novel ini bagus untuk dibaca dan dimiliki karena tiga hal. Pertama, kita bisa belajar bahwa untuk dapat meraih keberhasilan, kita harus menyerahkan diri kita secara total pada pekerjaan yang kita lakukan. Tanpa penyerahan diri, konsentrasi kita akan selalu terpecah-pecah dan upaya yang kita kerahkan tidak akan pernah bisa menyelesaikan pekerjaaan yang telah dimulai. Kedua, kesetiaan terhadap pekerjaan yang telah dimulai. Sering kali orang menyerah di tengah perjalanan yang telah ia mulai. Waktu dan tenaga telah dikerahkan, namun belum lagi sebuah pekerjaan selesai, orang yang memulai sudah memilih untuk mengundurkan diri karena mengalmi kendala. Santiago justru mengajarkan bahwa pengunduran diri di tengah perjalanan justru hanya akan melahirkan kekecewaan yang lebih pahit apabila kita mengetahui bahwa keberhasilan yang sesungguhnya sudah di depan mata. Lewat dirinya, Coelho mengajarkan kesabaran dalam bekerja. Semangat pantang menyerah dan keteguhan hati menjadi nilai lain yang terlihat dari karakter utama novel ini. Meskipun ia telah megalami kemunduran dan kegagalan dalam perjalanannya, ia menolak untuk menyerah dengan mudah. Setiap godaan yang muncul di tengah perjalanannya berupaya menjauhkan Santiago dari cita-citanya. Selama semangat dan impian masih hidup, perjuangan tidak boleh dihentikan.

Novel The Alchemist telah menjadi best-seller di seluruh penjuru dunia ini. Salah satu penggemar novel ini adalah Laurence Fishburne, aktor Holywood. Sebuah kabar mengatkan dia akan mengangkat novel ini menjadi film pada tahun 2009. Saya rasa Laurence akan berperan sebagai sang Alkemis. Dan bisa jadi, Morgan Freeman akan menjadi raja Salem. Kita lihat saja di tahun ini, mungkinkah filem itu mengalahkan Twilight?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s