Alice in Wonderland: Ulasan Buku

Pendahuluan

Buku yag satu ini sebetulnya sudah selesai saya baca semenjak tahun lalu, namun kesibukan saya selama ini membuat ulasan novel ini baru selesai sekarang. Setelah saya sibuk menyelesaikan tulisan saya yang banyak, kini saya punya banyak waktu untuk menyelesaikan ulasan yang sudah saya mulai dulu sekaligus juga memanfaatkan eforia filem “Alice in Wonderland” keluaran Disney Pictures.

Petualangan Alice di Negeri Impian” adalah sebuah karya klasik untuk kategori bacaan anak-anak yang terbit pertama kali di Inggris Raya pada tahun 1865, jaman pemerintahan ratu Victoria. Cerita luar biasa ini adalah buah pena Lewis Caroll, seorang dosen Matematika Oxford. Aslinya, nama asli si pengarang adalah Charles Luttewidge Dodgson sedangkan Lewis Caroll adalah hasil pembalikan penerjemahan namanya ke dalam bahasa asing, Dari Charles Dodgson ke bahasa Latin menjadiCarolus Ludovicus yang kemudian dibalik menjadi Lewis Carroll. Ajaib bukan? Sama ajaibnya dengan cerita Alice.

Cerita Alice in Wonderland bemula dari dongeng spontan yang dibuat oleh Charles ketika menemani tiga anak kecil dari rekan dosen Henry Liddell, Dekan Gereja Kristus Oxford, berperahu ria di sungai Thames dalam perjalanan piknik menuju Godstow. Ketiga anak tersebut adalah Alice Liddell, yang sudah lama mempesona Charles, dan kedua adik perempuannya. Untuk memeriahkan suasana perjalanan, Charles mengarang spontan sebuah cerita dongeng tentang petualangan seorang gadis kecil sambil menambahkan hewan-hewan yang mereka lihat selama perjalanan ke dalam cerita. Dalam perjalanan piknik musim panas itu, ketiga anak kecil tersebut merasa terkesima dan menyukai cerita karangan Charles. Ketika mereka kembali ke Oxford, Alice mengucapkan terima kasih untuk cerita menakjubkan tersebut dan meminta Charles menuliskan ulang dongengnya ke dalam sebuah buku, “Oh, Mr. Dodgson, I wish you would write out Alice’s Adventures for me!

Charles merasa tertarik dengan usulan Alice dan kemudian menulis kembali dongeng tersebut sambil menambahkan beberapa rincian-rincian kecil. Sesudahnya, ia merasa perlu menambahkan ilustrasi dan ia pun mengontak Sir John Tenniel, kartunis terbaik saat itu. Anehnya, interpretasi Tenniel terhadap karakter Alice agak berbeda lantaran Alice yang asli memiliki warna rambut hitam sementara dalam ilustrasinya ia justru berambut pirang. Setelah segalanya selesai, Charles pun mempersembahkan Alice in Wonderland edisi pertama kepada gadis kecil yang terhibur oleh ceritanya dan kemudian menerbitkannya lewat penerbit MacMillan Persis seperti reaksi anak kecil di atas perahu, novel petualangan Alice meledak luar biasa di pasaran dan mendapat sambutan yang sangat positif dari masyarakat Inggris pada saat itu. Cerita ini sukses lantaran ini adalah karya sastra yang pertama kali diciptakan semata-mata untuk hiburan anank-anak dan lepas dari pesan-pesan moral yang waktu itu dianut oleh kebanyakan pengarang dimasa Victorian. Bahkan, para pengarang pada zaman itu malah memuji Charles atas kelihaiannya dalam memainkan bahasa, penuh dengan teka-teki, plesetan homofon dan homonim, serta permainan kata-kata. Alice pun kemudian menjadi bagian penting dalam kehidupan kanak-kanak hingga kini.

Pendapat Pribadi

Cerita petualangan ini juga menarik dibaca lantaran pembaca utamanya, kaum anak-anak, berbagi sifat yang serupa dengan Alice. Alice digambarkan sebagai anak kecil dengan rasa ingin tahu yang luar biasa besar namun tetap memiliki kepolosan berpikir. Hal ini terlihat jelas pada bagian dimana Alice mencoba meminum sebuah ramuan yang ia sendiri belum tahu memiliki dampak apa terhadap dirinya, kemudian ia mengecil dan membesar berulang kali karenanya. Kepolosan berpikir ala anak kecil diperlihatkan pula oleh Alice ketika ia bercerita tentang kucing peliharaannya, Dinah, kepada sekelompok hewan yang dijumpainya. Dengan polosnya pula ia menceritakan ketrampilan Dinah dalam menangkap tikus atau kadal sehingga membuat kawanan hewan tersebut gempar dan terpontang-panting lari menyelamatkan diri. Lucunya, Alice sendiri merasa heran dengan hal tersebut. Kepolosan dan kesederahanaan berpikir in selalu ditunjukan Alice sepanjang petualangannya sehingga para pembaca kanak-kanak memiliki imajinasi mengenai sosok Alice yang tidak jauh berbeda dengan diri mereka. .

Lebih lanjut, Petualangan Alice mencapai kepoluleran dengan pesat dikalangan anak-anak karena konsep ceritanya mampu melambungkan benak pembacanya ke alam impian. Kita semua tahu kalau anak-anak senang berbicara sendiri atau bercakap-cakap dengan benda-benda yang ada disekitarnya. Contohnya, anak perempuan senang berbicara dengan boneka koleksinya sedangkan anak laki-laki bermain mobil-mobilan sambil berbicara sendiri, membuat khayalannya akan sebuah balapan. Anak-anak juga senang berbicara dengan binatang atau tumbuhan disekelilingnya. Semua hal ini diwujudkan lewat karakter Alice yang juga bisa berbincang-bincang dengan benda-benda yang ada disekitarnya. Contohnya, ia bersua dengan seekor kelinci putih yang dapat berbicara sendiri. Tidak sampai di situ saja, semua karakter binatang memiliki kemampuan berbicara dan bernalar layaknya manusia sungguhan–mulai dari tikus hingga seekor Gryphon. Lebih jauh lagi, ada pula karakter manusia kartu yang muncul–Queen of Heart, The Knave, dll. Keliaran fantasi Charles juga ditunjukan lewat kejadian lucu yang dialami Alice kala ia terjatuh ke dalam sebuah lubang yang paaaaanjang sekali sehingga Alice ia punya waktu panjang untuk berpikir. Lalu ada juga kejadian lucu dimana Alice bisa menyusutkan dirinya dan membesarkan dirinya sampai memanjangkan lehernya sendiri. Bagian cerita yang lain menunjukan Alice bermain croquet dengan menggunakan burung flamingo sebagai tongkat pemukul, bertemu dengan Mock Turtle yang selalu menangis, berjumpa dengan Mad Hatter yang pemarah, berkenalan dengan ulat kaki seribu yang mengisaphookah, sejenis shisa. Pendek kata, novel ini betul-betul menjelajahi fantasi anak kecil secara habis-habisan.

Hal menarik lainnya dari novel ini adalah nilai-nilai yang layak menjadi panutan bagi anak kecil seperti keberanian, sikap terbuka terhadap perbedaan dan kesopan santunan. Biarpun kritik mengatakan tidak ada kandungan nilai moral, saya berpendapat kalau Charles memasukan pesan tersebut. Alice menjadisebagai gadis kecil dengan keberanian yang tidak kalah dari anak laki-laki. Hal ini terpapar jelas pada banyak bagian dimana ia berjumpa dengan hewan-hewan ukuran raksasa atau bertemu dengan tokoh-tokoh berwajah jelek. Alice menghadapi semua karakter dalam cerita ini dengan kepolosannya dan hanya memperlihatkan sedikit rasa takut. Lewat perjumpaan dengan beberapa tokoh, anak kecil belajar untuk tidak menilai sesuatu hanya lewat perbedaan yang kasat mata. Alice dalam cerita tidak pernah menunjukan sikap jijik atau merendahkan terhadap setiap karakter yang ia temui–baik terhadap Duchess yang berwajah jelek, Doormouse yang lamban, Gryphon yang berbentuk aneh, ataupun Mad Hatter yang berkarakter unik. Yah sesekali Alice menjadi kesal atau sedikit marah namun itu semua hanyalah sifat khas anak kecil. Sebaliknya, rasa ingin tahu Alice yang besar secara tidak sadar digunakannya untuk menepis perbedaan fisik yang kasat mata. Indahnya, Alice selalu bisa menampilkan kesopanan yang baik terhadap siapapun yang ditemuinya, sekalipun dengan Ratu Hati yang senang memberi perintah memenggal kepala orang.

Satu lagi yang membuat novel ini menarik adalah keberhasilan Charles dalam memasukan humor-humor dalam bentuk permainan kata, puisi tanpa makna, rima kata, dan matematika. Di bagian awal, Alice sudah tampil dengan permainan ucapan kata latitude dan longitude, yang sepertinya tanpa makna namun terdengar baik baginya. Atau Kelinci Putih yang bergumam, “Dear, dear! how queertoday?” Kemudian, pembaca akan menemui puisi-puisi konyol, tidak bermakna, dibuat semata-mata untuk mempermainkan rima kata. Contohnya;

‘How doth the little crocodile

Improve his shining tail,

And pour the waters of the Nile

On every golden scale!’

Apalagi tokoh Hatter yang sering membuat kalima membingungkan nan lucu seperti dialognya dengan Alice, ‘…”I see what I eat” is the same thing as “I eat what I see”…’ yang kemudian ditimpali March Hare, ‘…”I like what I get” is the same thing as “I like what I get”…’ dan ditukas oleh Doormouse, ‘that “I breathe when I sleep” is the same as “I sleep when I breathe”!’ Waha ha ha ha ha, Aristoteles bisa murka mendengar percakapan ketiga tokoh itu.😀 Akan tetapi, buat anak-anak itu adalah hal yang terbaik karena bagi mereka menggunakan kalimat dengan logika sederhana memang menjadi hal lumrah dan membuat kepala orang dewasa pusing dibuatnya. Charles membuat penjelajahan lebih jauh dengan memainkan kelas kata seperti ditunjukan tokoh Gryphon yang mengatakan uglification yang berasal dari kata uglify. Adapula plesetan terhadap mata pelajaran di sekolah manusia yang oleh Mock Turtle disesuaikan dengan kehidupan laut sehingga,Reading menjadi ReelingWriting menjadi WrithingHistory menjadi MysteryDrawing menjadiDrawling. Hal ini juga disusul dengan permainan pengucapan kata seperti purpose yang diucapkanpurpoise. Yang paling lucu adalah bagian sewaktu Mock Turtle mengatakan kalau di sekolahnya dia memiliki 5 pelajaran (lesson) yang setiap harinya berkurang satu pelajaran (lessen). Ha ha ha ha, it’s killing me.

Penutup

Kini, Petualangan Alice di Negeri Impian sudah lebih dari satu abad diterbitkan dan sudah diterjemahkan kedalam 70 bahasa, termasuk Yahudi dan Swahili. Cerita ini bahkan sejajar posisinya dengan Injil dan Karya Shakespeare dalam hal luasnya penerjemahan. Karya asli novel ini masih tersimpan rapi di Museum Perpustakaan Inggris. Ratu Victoria sendiri juga penggemar cerita ini dan ketika ia menyampaikan keinginannya ada Charles untuk membaca karya tulis lainnya, ia dengan polos memberikan tulisan terakhirnya tentang Matematika!

Karena jiwa cerita ini yang sangat dekat dengan kehidupan kanak-kanak, Alice in Wonderlandmenjadi bacaan wajib bagi anak sekolah di Inggris dan Amerika. Bahkan, cerita ini menjadi bahan pementasan drama wajib bagi pelajar tingkat SD. Di luar itu, cerita ini juga sudah berkali-kali diangkat ke dalam bentuk filem televisi hingga bioskop.

Meskipun ini adalah sala satu cerita anak terhebat yang pernah ada, usaha penerjemahan  karya ini ke dalam bahasa lain belum tentu mampu mempertahankan jiwa fantasi yang terkandung dalam cerita ini, terutama dalam hal permainan bahasa. Toh, biar begitu karya Lewis Caroll ini patut dibaca siapapun yang senang memabaca, salah satu bacaan yang wajib sebelum Anda mati.

Jika Anda menyukai artikel ini, mungkin Anda akan juga menyukai ulasan buku lainnya:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s