Grammarian in Love: L’petit Histoire

Apa jadinya bila orang yang suka menjahili struktur kalimat dan kosakata berada di dalam kelas Grammar asuhan seorang Professor? Sebuah puisi konyol,😀. Inilah yang terjadi ketika saya berada di dalam kelas yang dipimpin oleh Professor Bambang.  

Awal mula dari puisi ini agak aneh. Dihari pertama kuliah, Prof. Bambang sudah membagikan silabus dimana ia menyatakan bahwa setiap mahasiswa di kelasnya wajib mempresentasikan satu bab dari buku teks yang kami pakai, karangan Larsen dan Celce-Murcia (biasa kami plesetkan Cece Murcia). Setiap mahasiswa mendapatkan satu atau dua topik, tergantung panjangnya pembahasan. Namun, walau kami hanya memakai satu buku teks, Profesor kami mewajibkan untuk membaca referensi dari tiga buku Grammar lainnya. Meski ini menjadi tugas yang luar biasa melelahkan, tujuan dari kegiatan ini sebetulnya adalah untuk membuat kami membaca buku teks sehingga tidak hanya menyimak penjelasan dosen di kelas saja. 

Dari daftar presenter yang dibagiakan, saya beruntung mendapat jatah presentasi sesudah UTS (Ujian Tengah Semester). Dengan begini, saya bisa mengamati dan mempelajari cara teman-teman saya yang dapat giliran pertama presentasi. Setelah melihat dan mendengarkan presentasi rekan sekelas, saya merasa presentasi yang mereka bawakan agak membosankan (red: ini bukan sombong tapi jumawa) (red: same aje tuh). Membosankan karena saya lihat mereka hanya meringkaskan materi yang ada di buku dengan memberikan sedikit perubahan saja. Bahkan contoh kalimat yang disajikan pun menjiplak habis. Saya kemudian membatin, “Presentasi saya harus berbeda!”. Bagaimana caranya? Nah, itu dia.

Bisa dibilang, gagasan gila untuk membuatnya datang tiba-tiba. Hal ini terbersit dalam benak saya pada saat mendengarkan presentasi seorang rekan mahasiswa. Entah bagaimana, sebuah lampu pijar bersinar terang di atas kepala saya sampai Hari dan Srisna kesilauan (red: lebaaaaaay). Tapi benar, gagasan melintas di benak saya saat saya sedang mengulang-ulang istilah khas grammar seperti: aspect, progressive, tense, phrase, clause, dll. Saya langsung mendapat ide untuk membuat puisi cinta dengan menggunakan istilah tersebut sebagai metafora jenaka. Untuk mengembangkan inspirasi lebih lanjut, saya membayangkan seperti apa jadinya seorang Professor Bambang saat jatuh cinta. “Tee hee, kutu buku seperti dia kalau jatuh cinta pasti menyatakan cintanya dengan istilah ilmiah”, itulah pikiran saya pada saat itu. Jadilah saya menghabiskan waktu beberapa minggu untuk menuliskan puisi cinta jenaka ini sebagai cara untuk membuat presentasi saya istimewa. 

Begitulah ceritanya, pada saat giliran saya tiba, saya memberikan presentasi dengan menggunakan materi yang sudah digariskan oleh Professor. Dengan jahilnya pula, saya memodifikasi beberapa kalimat contoh dalam buku teks dan buku referensi ke dalam bentuk yang berbeda, ada yang saya ubah subyek dan obyeknya. Ha ha ha ha, Pak Bambang bahkan sampai membuka buku teks dengan wajah kebingungan karena contoh kalima yang saya sajikan berbeda sedikit dengan di buku,😀. Sebagai pemuncak, pada bagian akhir presentasi, saya mengatakan pada teman saya agar tidak terlalu serius belajar grammar karena bila sudah kecanduan nanti akan membuat puisi cinta yang berbau grammar pula. Saya pun mempresentasikan puisi itu lewat OHP yang sudah tersedia. Dan tergelak-gelaklah semua teman kuliah saya di kelas tersebut, bahkan Ifan yang jaim itu juga tidak bisa menahan senyum lebar,😄. Pak Bambang pun juga ikut tertawa bersama kami. Saya yakin dalam mimpinya yang paling liar sekalipun, dia tidak menyangka akan ada seorang mahasiswa semester pertama berani mempermainkan istilah grammar sebagai metafora dalam sebuah puisi cinta konyol.  

Tidak terasa sudah tujuh tahun berlalu semenjak puisi ini ditulis. Kenangan akan puisi konyol ini bangkit kembali saat saya membaca puisi cinta tulisan Anisa yang menggunakan istilah akuntansi sebagai metaforanya. Kini saya bagikan puisi cinta tersebut kepada kalian. Selamat menikmati,🙂

 

PS: Meski puisi ini terinspirasi oleh Pak Bambang dan tingkah lakunya, saya sebetulnya mendedikasikan ini pada yang tercantik kedua di kelas waktu itu, Rufaidah Dewi. (red: suit suit, akhirnya ngaku juga)

 

Grammarian in love

Darling, I’m in love,

You are perfectly well structured, either active or passive,

that hardly any flaw could be seen.

To other people, you, maybe, are just noun

To me, you are a verb 

Without you, I, subject, will not make a clause, let alone a sentence

I hardly find any suitable pronoun for you

Your face is filled with adjectives

Your deeds are adverbs

Even though I often treat you as plural and abstract,

you always take care of me as singular and concrete

While I selfishly always be negationinterrogative and imperative

you are always affirmative

Honey, you never form any good clause in your life 

But, I never get tired of hearing your phrases

You are the superlative in my life

Cause your love is not only tenseless but also aspectually progressive

And last, your love is never conditionals

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s