Jalur Khusus Sepeda: Impian Tinggal Impian

Setelah menunggu sekian lama, akhirnya Pemda DKI mulai berancang-ancang untuk mewujudkan keinginan atau impian dari para penggiat bersepeda ke kantor/sekolah. Pada 2010, Pemda DKI, tepatnya Jakarta Selatan, berniat mewujudkan jalur khusus sepeda dengan mengambil rute Lebak Bulus-Jalan Sisingamangaraja. Selain di tempat tersebut, beberapa area di Jakarta Pusat sudah mulai direncanakan untuk mendapat jalur tambahan khusus untuk sepeda.

Saya bukanlah penentang kegiatan bersepeda ke kantor (Bike to Work). Saat ini saya adalah pengedara sepeda motor yang aktif. Namun dulu, saya biasa mengendarai sepeda balap untuk jarak jauh. Berkendara dengan sepeda adalah suatu kegiatan yang baik–meningkatkan kebugaran raga, kesehatan jiwa, dan ikut mengurangi polusi udara. Hanya saja, usulan jalur khusus sepeda yang didengung-dengungkan penggiat Bike to Work selama ini terlihat kurang realistis saat dibandingkan fakta di lapangan.

Keberatan
Alasan yang sering dikemukakan oleh penggiat sepeda tentang perlunya jalur khusus sepeda adalah untuk melindungi pengendara sepeda dari pengguna jalan lain seperti pengemudi mobil dan pengendara sepeda motor. Mereka mengharapkan jalur khusus ini akan membuat pengendara sepeda bisa berkendara dengan nyaman dan hati tentram. Faktanya, kondisi jalan raya di kota Jakarta tidak layak untuk dikembangkan lebih lanjut, sudah mentok. Memperlebar ruas jalan sudah nyaris tidak mungkin, kecuali Pemda DKI punya banyak uang untuk membeli lahan milik gedung-gedung besar di pinggir jalan raya. Sudah jalan tidak bisa dikembangkan, pemilik kendaraan pribadi pun bertambah. Anehnya, orang sering mengeluhkan naiknya pemilik kendaraan sepeda motor sebagai penyebab kemacetan tanpa menyadari bahwa pada saat bersamaan pemilik mobil pun juga ikut bertambah. Sekarang, dengan banyaknya pertambahan pemilik kendaraan pribadi, jalanan juga menjadi lebih sesak dengan naiknya pengguna sepeda. Siapa bilang pengendara sepeda adalah pengguna kendaraan pribadi yang beralih moda transportasi? Nyatanya, memang ada pengendara sepeda yang sebelumnya adalah pengguna angkutan umum. Permasalahan menjadi semakin pelik lantaran sebagian ruas jalan utama Jakarta; Blok M-Kota, Ps. Rebo-Ancol, Sudirman-Pulo Gadung, Ragunan-Sudirman;dipakai pula untuk jalur Busway. Jadilah jalan yang sudah “sempit” menjadi “semakin sempit”. Contoh paling jelas dari penyempitan jalan ini terlihat pada ruas jalan daerah Ps. Rebo dan Sultan Iskandarsyah. Kondisi ini semakin diperparah dengan berkembangnya wacana untuk membuat jalur sepeda di atas trotoar pejalan kaki. Hei, berapa banyak ruas trotoar yang masih lebar untuk menampung pejalan kaki dan sepeda. Bahkan trotoar di jalan Sudirman saja kini sudah banyak termakan oleh tangga penyebrangan Busway.

Selain jalan yang sempit, jalur khusus sepeda belum bisa menjamin keamanan para pengendara sepeda sepenuhnya. Seperti yang disebutkan diatas, keberadaan jalur sepeda akan membuat beberapa ruas jalan menjadi sempit. Saya ragu bila pengguna jalan seperti pengemudi mobil, pengendara motor, dan supir bus/trus akan menyukai gagasan itu. Mereka pasti akan merasa kesal karena jalan yang sudah padat dan “sempit” menjadi lebih sesak lagi. Kalau sudah begini, siap-siap saja bila sepeda motor, bus kota, dan mobil pribadi mengambil jalur khusus sepeda untuk kendaraan pribadi mereka. Ini sudah terbukti di beberapa jalur Busway yang melewati daerah padat seperti Pondok Indah, Kampung Melayu, dan Kramat Jati, kendaraan pribadi berebut masuk ke jalur Busway. Huh, jalur Busway di Ragunan dan Warung Buncit saja masih dilewati oleh sepeda motor dan mobil pribadi. Jadi, apa mungkin jalur khusus sepeda ini akan membuat penggunanya aman? Masih ingat ketika pemerintah DKI mengharuskan motor menggunakan jalur kiri? Berapa lama kegiatan ini bertahan lama? Saya menjadi semakin khawatir apabila nanti dibuat pula jalur khusus untuk sepeda, tidak boleh dileawati oleh kendaraan lain. Ini cuma akan membuat jalan yang bisa dilewati menjadi semakin terbatas, karena sebagian kecil ruas jalan umum telah ditutup oleh portal, dengan alasan keamanan.

Berikutnya, tingkah laku pengguna jalan di Jakarta masih belum mengalami peningkatan yang berarti. Siapa bilang pengendara motor memiliki tingkah laku brengsek? Nyatanya, pengemudi mobil yang brengsek juga banyak–mulai dari mobil butut sampai mobil mewah ratusan juta rupiah. Pengendara sepeda sendiri banyak juga pengendara sepeda motor atau pengemudi mobil aktif. Kalau mereka saja brengsek di balik kemudi mobil atau setang motor, di atas jok sepeda bisa jadi sifat jelek itu tidak akan hilang. Saya pernah melihat pengendara sepeda yang pindah dari jalan raya ke trotoar pejalan kaki sambil melaju kencang, lebih parah lagi ada yang melompat dengan sepedanya dari jalan raya ke atas trotoar hingga mengagetkan pejalan kaki yang sedang melintas. Memang, manusia tengil ada dimana-mana, tidak peduli status sosial ataupun moda transportasi yang dipakainya. Betul saya pernah melihat pengendara sepeda yang mengalami intimidasi dari pengguna sepeda motor atau mobil di jalan raya. Karena mereka dianggap lambat dan menghalangi kendaraan saat kondisi jalan macet atau padat merayap, pengendara sepeda diintimidasi dengan cara diklakson keras-keras, dibentak, atau disalip sambil memutar grip gas kuat-kuat. Di lain kesempatan, ada juga pengendara sepeda yang kelewat agresif lantas berkelat-kelit di tengah kepadatan kendaraan dengan kecepatan tinggi tanpa memperhatikan apabila anda kendaraan lain dari belakang atau dari samping.

Penutup
Jalur khusus sepeda adalah hal yang baik. Di luar negeri, sudah banyak negara-negara yang menerapkan hal baik ini. Indonesia pun sudah perlu untuk membuat jalur-jalur serupa. Walaupun begitu, pembuatan jalur sepeda ini perlu diiringi dengan sikap realistis. Kalau mau membuat jalur khusus sepeda, buatlah jalur di jalan yang jarang, atau sangat jarang, dilalui oleh bus, sepeda motor, dan mobil pribadi. Selain itu, sikap berwacana haruslah diimbangi dengan kosep berpikir logis. Jangan pagi-pagi bicara soal trotoar yang dibagi dua untuk pejalan kaki dan pengendara sepeda jika pada kenyataan kondisi trotoar justru sempit. Para pengendara sepeda juga diminta untuk bisa menertibkan perilaku mereka dan sesama rekan pengendara sepeda. Kalian mengeluh jika mendapat perlakuan tidak pantas dari pengguna mobil dan sepeda motor pribadi? Janganlah membalas dengna cara yang sama. Itu cuma akan membuat diri kalian sejajar dengan mereka yang brengsek. Kalau kalian berani menegur pengguna mobil atau sepeda motor, maka kalian juga harus sama beraninya dalam menegur pengendara sepeda yang ugal-ugalan. Tentang keamanan, selain meminta pemerintah menyediakan sarana berkendara sepeda yang aman, saya minta agar kalian juga mengamankan diri kalian sendiri. Pada masa kini, masih banyak terlihat pengendara sepeda yang menggunakan perlatan keamanan sebatas helm sepeda biasa. Ini masih kurang. Biar lebih aman, kalian harus pakai pelindung lutut, pelindung lengan dan sikut. Kalau perlu, pakai juga helm macam pengendara sepeda motor off-road.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s