Kelas Dalam Kenangan: Bagian 1

Untuk sebuah kurun waktu yang belum lama, saya telah mengajar di LIA-Depok. Selama periode tersebut, saya telah mengajar kelas dengan rentang tingkatan dari SD hingga karyawan. Dari sekian banyak kelas yang saya telah saya pegang, beberapa meninggalkan kenangan yang masih membekas dalam ingatan saya. Kelas seperti inilah yang membuat saya selalu datang ke kelas tanpa ingin mengambil kesempatan untuk bolos satu pertemuan sekalipun. Juga kelas yang sesudah saya ajar pada satu pekan membuat saya menantikan kesempatan untuk bertemu mereka lagi di pekan berikutnya. Tulisan ini saya maksudkan sebagai catatan tentang kelas-kelas yang murid-muridnya saya ingat hingga sekarang, mengapa kelas tersebut masih saya kenang hingga sekarang.

Basic 1, Senin-Rabu, Term 4 (2004)
Secara alamiah, kelas ini adalah kelas yang paling saya ingat karena inilah kelas pertama yang saya ajar di LIA-Depok. Nama murid-muridnya sudah tidak terlalu saya ingat, tapi akan saya coba. Ada Ririn Nababan yang bawel dan bersemangat. Ada juga Auri yang, terlepas dari namanya yang berwibawa, memiliki sifat feminim. Saya masih ingat Eka, Dini K.U., 2 murid yang bernama Mozart, serta seorang murid keturunan Cina yang saya lupa namanya. Mereka semua adalah murid yang penuh semangat dan dapat menghidupkan kelas.

Dari segi kemampuan, kelas ini tidak jauh berbeda dari kelas lainnya. Murid-muridnya termasuk rata-rata. Segelintir dari mereka adalah murid-murid yang cerdas. Betul-betul tidak jauh berbeda dari kelas lain pada umumnya. Yang saya suka dari kelas ini adalah kemampuan alamiah murid-murid ini dalam menjalin hubungan yang baik dengan sesama mereka di dalam kelas tanpa membuat guru kelas harus bekerja keras untuk menghidupkan suasana kelas, padahal mereka semua baru pertama kali bertemu di tingkat Basic 1. Selain hal tersebut, saya menyukai kelas ini karena dapat mengajar mereka dengan santai serta bisa bercanda dengan mereka dalam setiap pertemuan kami. Tapi, saya hanya punya satu kesempatan saja untuk mengajar mereka.

Basic 1, Jumat, Term 4 (2004)
Ini juga kelas pertama yang saya ajar pada tahun pertama di LIA-Depok. Dari tingkat pencapaian prestasi akademik, mereka lebih baik daripada murid Basic 1 hari S-R yang saya ajar. Dari segi keceriaan, mereka tidak sebaik murid saya di S-R. Mungkin ini dikarenakan populasi murid perempuan yang lebih banyak daripada murid laki-laki, yang termasuk jenis pendiam dan sayangnya tidak sepandai teman sekelas mereka dari kelompok lawan jenis.

Mengapa saya mengenangnya? Karena di kelas ini terdapat beberapa kecantikan asli Indonesia yang sudah langka ditemui pada saat itu. Ada Eka Wulandari dan Tutut. Tutut yang paling saya ingat karena dia tidak hanya cantik tapi juga pandai. Fisik-nya bisa dibilang sempurna: wajah oval, kulit coklat gelap yang eksotis, rambut hitam lurus nan panjang. Betul-betul keindahan wanita Indonesia. Eka? Mungkin karena senyum seringainya yang unik. Dan juga yang tidak bisa dilewatkan adalah Erni seksi dan berpipi tembam. Oh ya, ada juga Celly yang hitam manis, imut dan pintar. Sayang, dia tidak lama belajar di Depok karena berhenti semenjak mulai kuliah. Bukanlah satu hal yang menyenangkan ketika saya berpisah dengan kelas ini.

Basic 3, Selasa-Kamis, Term 2 (2005)
Kelas menyenangkan yang pernah saya ajar. Di sini pulalah saya bertemu untuk pertama kalinya dengan Febri dan seorang temannya dari Mardi Yuana. Murid-muridnya termasuk rata-rata tapi mereka memiliki semangat belajar yang tidak pernah redup. Betul-betul kelas yang bersemangat. Yang diperlukan hanyalah percikan api dari sang guru kelas dan kelas ini sudah siap untuk diajar dan belajar. Uniknya, latar belakang murid ini juga beragam dimulai dari mereka yang baru pertama kali masuk LIA, pelajar SMU, mahasiswa dan murid yang mengulang kelas kembali. Biarpun begitu, semua orang dalam kelas dapat berbaur dengan cepat dan langsung menciptakan reaksi kimiawi yang luar biasa. Febri, teman sekolahnya dan satu mahasiswa Perbanas berhasil menciptakan suasana yang baik di dalam kelas.

Adakah kecantikan di dalam kelas ini? Tentu saja. Ada dua orang yang layak disebut yaitu Cassie dan Juwita. Keduanya cantik dan cerdas, beauty and brain. Selain itu mereka juga berkepribadian baik serta ramah. Juwita dan saya ternyata juga berbagi kegemaran yang sama dengan kebudayaan Jepang. Dia pernah meminjamkan CD Soundtrack Samurai X yang masih saya simpan, entah kapan bisa saya kembalikan. Sayang, saya hanya memegang kelas ini sekali saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s