Kelas Dalam Kenangan: Bagian 5

Tahun 2008
Setelah setahun penuh mengalami masa luar biasa di 2007, tahun ini bisa dibilang saya tidak lagi mendapatkan kelas yang tak terlupakan. Ini bukan berarti murid-murid saya di 2008 tidak ada yang bagus. Hanya saja, tidak ada kelas yang meninggalkan kenangan kuat di tahun ini.

Tahun 2009
Di tahun ini saya mendapatkan tiga kelas yang bisa dibilang LUAR BIASA. LUAR BIASA bukan karena murid-muridnya yang sangat cerdas tapi karena terjalin hubungan yang SANGAT HEBAT diantara guru dan murid-muridnya.

Intermediate 1 dan 2, Selasa Kamis, Term 1 dan 2 (2009)
Kelas yang selalu saya ingat karena hampir semua saya merasa dekat dengan hampir setiap individu di dalamnya. Awalnya ada kecanggungan lantaran murid-murid di kelas ini belum terbiasa dengan kepribadian dan gaya mengajar saya yang di luar kelaziman. Dan setelah lewat proses penyesuaian diri–suri mawase, perlahan tapi pasti murid-murid didalam kelas mulai bisa menyesuaikan diri bersama saya.

Pertama kali saya masuk kelas ini, para muridnya masih terbilang formal dan kaku, mungkin karena pengaruh guru mereka di tingkat sebelumnya. Tapi, pembawaan saya yang luwes dan non-ortodoks berhasil mencairkan kecanggungan tersebut. Praktis, semua murid di kelas ini mengalami masa-masa yang berbeda selama diajar oleh saya. Rangga menjadi perkecualian karena dia pernah menjadi murid saya di tingkat CIE 1, dia sudah tidak asing dengan cara saya yang unik.

Murid di kelas ini termasuk rata-rata, tapi mereka adalah pelajar yang tekun. Yang mereka perlukan hanyalah guru yang bisa memahami kebutuhan mereka dan bisa memenuhinya tanpa terkesan memaksa. Pribadi yang saya ingat dari kelas ini adalah Rangga, Mario, Amel yang manja, Andika, Marsya, Dea, April, Shinta, dan Bintang. Yang cantik? Saya kira Bintang. Yang pandai? Hilferia. Sayang, sistem membuat dia pindah ke kelas lain pada tingkat Inter-2,😦

Hari terakhir di level ini tidak menyenangkan lantaran kami harus berpisah.

Intermediate 2, Senin-Rabu, Term 2 (2009)
Kelas ini sama kepribadiannya dengan kelas saya yang di atas. Masa-masa awal adalah masa dimana kami masih saling mengamati dan mempelajari diri masing-masing. Begitu saya dan murid-murid menemukan persamaan masing-masing, segalanya berjalan dengan sangat mulus. Persamaan kami ada pada titik dimana saya dan kelas ini adalah pihak-pihak yang cenderung santai tanpa kehilangan kesadaran penuh akan tugas masing-masing. Saya bisa bercanda dengan murid-murid di kelas ini karena memang mereka sendiri adalah pribadi yang santai. Begitum masuk pada topik utama pelajaran, murid-murid ini bisa pula serius dalam mengikuti pelajaran.

Seperti halnya kelas Inter-2, Selasa-Kamis, di atas, saya masih mengingat baik banyak individu-individu di kelas ini. Saya ingat Sabar dan Arief yang sering saling meledek. Lalu ada Zulfi dan Alya yang sering duduk bersama. Kemudian ada Tunjung dan Poppy yang bawel. Masih ada Ariyo, Laura yang pintar, Pras yang sering datang terlambat, Rony, serta Shella yang cantik, tweet tweet.

Sayang, kami hanya bersama satu term saja. Seandainya keberadaan kami bisa berlanjut kembali ke Inter 4.

Intermediate 3 dan 4, Senin-Rabu, Term 2 dan 3 (2009)
Oke, kelas ini pertama kali tidak terasa menyenangkan. Mengapa? Pertama, murid-muridnya termasuk rata-rata, rada ke bawah. Kedua, saya mengalami kesulitan di awal kelas untuk membangkitkan keberanian mereka untuk bicara. Ketiga, para murid berpikir saya tidak ada bedanya dengan guru-guru mereka yang sebelumnya, serius setiap saat. Keempat, saya sempat kesal dengan tingkah laku-laku murid-murid yang sering, sengaja, datang terlambat, seperti Rhea, Ruth, Dian, dan Eci.

Akan tetapi, setelah melewati hampir satu bulan, saya dan murid-murid akhirnya sudah mulai bisa menyesuaikan diri. Perlahan, mereka menyadari bila saya bukan guru ortodoks seperti yang biasa mereka temui di sekolah atau kampus. Saya pun juga mulai menyesuaikan diri dengan karakter kelas ini. Terlepas dari prasangka negatif saya di awal kelas, saya melihat bahwa kelas ini memiliki energi yang positif dalam belajar. Mereka mau belajar selama guru kelas bisa memahami kebutuhan mereka. Dan saya tahu mereka mau belajar serius dan mampu belajar banyak selama sang guru kelas bisa menyajikan materi pelajara dengan cara yang mudah mereka pahami, tidak rumit atau berbelit-belit. Ini sangat cocok sekali dengan sifat saya suka berpikir sederhana dan efisien, dalam mengajar tentunya.

Hasilnya, kembali lagi saya mengalami masa yang LUARRRRR BIASAAAAAA bersama kelas yang satu ini. Mereka lebih GILA daripada kelas In-3 dan 4 saya pada tahu 2007. Perpaduan guru eksentrik dan murid yang tidak lazim berhasil membuat reaksi kimiawi berantai, chain reaction. It was an INSANE period of time. I never felt bored going to this class. In fact, I couldn’t keep waiting to meet them as soon as possible whenever Wednesday session was over.

Keadaan kelas ini menjadi lebih luar biasa lagi pada tingkat Inter-4, tatkala Intan, Kanya, dan Thara pindah ke kelas ini sebagai hasil tranfer kelas dan jadwal. They had no idea what kind of class they were getting into,😄. Begitu pula Eva yang pindah karena atas dasar campur tangan saya, ;;) Walaupun jumlah murid bertambah banyak, tak ada kesulitan berarti bagi saya dalam melakukan interaksi belajar mengajar dengan baik. Biarpun tuntutan pelajar di tingkat Inter-3 dan 4 termasuk tinggi, para murid-murid ini bisa memahami konsep yang paling rumit sekalipun dan mampu melakukan tugas-tugas yang saya berikan. Bukti, murid ini tidaklah bodoh selama guru kelas mampu menerjemahkan pelajaran dalam buku ataupun silabus ke dalam bentuk sederhana dan tepat sasaran.

Murid-murid yang saya ingat di kelas ini ada banyak. Ada Bagus dan Samuel yang pandai. Khusus untuk yang terakhir, orang yang satu ini termasuk konyol juga. Lalu ada Reinhard yang kalem, pandai . . . menggambar dan berkepribadian supel. Ada Tomi yang punya kemauan keras untuk berbicara bahasa Inggris biarpun di harus bicara terpatah-patah, great trait. Yang pandai dan rajin adalah Kanya, Tara, dan Maryam. Jujur saja, untuk yang ketiga ini, cuma Tuhan yang tahu kenapa mereka betah berada di dalam kelas yang dipenuhi oleh orang-orang nyentrik dan gila. Saya yakin, ketiga-nya pasti heran bila kelas seperti ini bisa juga eksis dalam tempat kursus seperti LIA. Saya ingat Gandes yang sering datang terlambat tapi pandai dan rajin belajar, tapi tidak selalu rajin mengerkan PR (karena lupa). Yang cantik? Oh, jelas Intan (Smansa), Maryam (SMA 3), Kanya, dan Tara (keduanya SMA 39). They’re all beauty and brain.

Sedang Ruth, Rhea, Dian, dan Eci? Jujur saja, saya sempat tidak peduli lagi dengan mereka di Inter-3. Sikap yang mereka tunjukan sangat tidak saya sukai. Sering datang terlambat, padahal sebetulnya sudah datang sebelum bel. Pada akhirnya, saya dan mereka bisa juga menyesuaikan diri. Saya pun melihat bahwa mereka pun memiliki potensi yang sama dengan murid-murid lain di kelas ini, mereka bisa belajar dengan serius serta mampu mengerjakan tugas yang sulit sekalipun asal guru bisa mempercayai kemampuan mereka dan mampu menyerderhanakan konsep pelajaran yang sulit. Mereka berempat menjadi generator yang bisa menghidupkan suasan kelas lewat tingkah laku konyol dan komentar-komentar aneh mereka.

Guru lain mungkin akan mengalami kesulitan dalam mengajar kelas ini, tetapi saya tidak mengalami kesulitan yang berarti. Kenapa? Saya pikir karena saya berbicara dalam bahasa mereka. Saya tahu kebutuhan mereka. Sayangnya, kebersamaan kami hanya berlangsung dua periode.

Higher Intermediate 1 dan 2, Sabtu, Term 2 dan 3 (2009)
Saya sudah beberapa kali mengajar Higher Intermediate sebelumnya dan tidak pernah mengalami masa-masa liar atau gila seperti yang pernah saya dapatka pada tingkat Elementary ataupun Intermediate. Mungkin ini disebabkan oleh suasana tingkat HI yang cenderung lebih serius, baik bagi guru dan juga murid. Kelas inipun tidak terkecuali, pada awalnya.

Kembali lagi, suasan kelas ini pada hari pertama cenderung formal. Saya kira ini adalah hasil dari kebiasaan mereka dengan guru sebelumnya. Biarpun begitu, proses suri-mawase di antara kami tidak memakan waktu lama karena begitu persamaan masing-masing ditemukan–santai dalam interaksi tapi serius dalam mengajar belajar, segalanya berlangsung tanpa hambatan berarti, business as usual.

Secara umum, murid-murid di kelas ini termasuk berkepribadian kalem, rajin dan tidak liar, dengan perkecualian Ayu dan Yoseph. Kepandaian mereka termasuk sedikit di atas rata-rata. Namun, di balik tampilan permukaan yang tenang, ada gairah besar dan menggelegak akan suasana belajar yang santai. Gairah besar ini adalah hasil penumpukan yang berlangsung dalam jangka waktu lama akibat penekan yang dilakukan secara sadar lantaran guru mereka sebelumnya cenderung serius dan otorites. Sayangnya, penumpukan gairah yang terlalu lama ini membuat bendungan di alam bawah sadar pikiran mereke mengalami tekanan kuat dan semakin lama gairah ini semakin bertambah, membuncah, dan akhirnya meluap begitu mereka menyadari seperti apa rupanya kepribadian saya, guru kelas mereka yang baru. CHAIN REACTION, there’s no way anybody could stop it. Akhirnya, ada juga guru yang bicara dalam bahasa mereka. Periode HI-1 adalah periode yang hebat, HI-2 adalah LUUUUAARRRRR BIASAAAAAA!!!!

Individu di kelas ini masih banyak yang saya ingat. Murid pria termasuk tenang dan tidak cerewet, seperti, Affan, Ilham, Echo, Bona, Ernest dan Yoga. Murid perempuan lebih mendominasi. Ada Aysha, Lusi yang wajahnya mirip wanita usia dua puluh tahun (padahal statusnya anak kelas 2 SMU), Amel, Caca, Isna, Lusi, Arini, Dibba, Eka, Fitri, dan Finggar. Yang paling pandai di kelas adalah Echo dan Aysha. Yang cantik, ya cuma Finggar saja, dia punya bentuk bibir yang unik. Akan tetapi, kepribadian murid di kelas secara umum merata–santai namun bisa serius–dan menjadikannya istimewa di mata saya. Kedekatan yang terjalin diantara saya dan murid-murid terjalin secara alamiah tanpa adanya suatu usaha ekstra dari saya. Yah, saya rasa ini karena saya menjalankan tugas saya dengan serius tanpa ada suatu kepura-puraan tertentu. Nampaknya, para murid ini melihatnya dan membalas dengan menunjukan sikap yang bersungguh-sungguh dalam belajar.

Hari terakhir di kelas ini bukanlah hari yang saya suka untuk mengingatnya. Sayang sekali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s