Lupakan Formula 1 di Indonesia

Akhirnya, setelah sekian lama ada juga komentar waras terhadap wacana mendatangkan sirkus F1 ke Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, komentar ini keluar dari diri seorang Jean Todt, mantan manajer tim F1 Ferrari dan WRC Peugeout, kini ketua FIA. Hanya karena iri melihat kesuksesan Jepang, Malaysia dan Singapura dalam menyelenggarakan balap F1, banyak penggiat otomotif Indonesia sudah bermimpi-mimpi untuk menyelenggarakan satu seri F1 di negeri ini. Cih, menggelar balap Formula Satu di Indonesia tidak ada bedanya dengan usaha menjadikan negeri ini tuan rumah Piala Dunia, mimpi di siang bolong.

Indonesia gagal menjadi tuan rumah Piala Dunia karena dunia sepak bolanya lebih banyak sepak daripada bola. Begitu pula halnya dengan balap F1, lebih banyak mobil balap daripada prestasi. Dari jaman saya SMP sampai sudah bekerja, dedengkot balap mobil di negeri, ya dia lagi dia lagi—keluarga Suprapto, Gelael, Sungkar. Memang ada beberapa nama lain, namun yang bertahan ya tiga keluarga tersebut, ironisnya cuma satu yang betul-betul berprestasi. Daripada bersikukuh menggelar balap Formula, Jean mengusulkan Indonesia fokus pada usaha menggelar kompetisi balap reli atau turing.

Jean sendiri menyarankan agar Indonesia aktif mengkampanyekan negeri ini sebagai tuan rumah balap kelas reli, WRC misalnya. Dasar dari argumentasi Jean adalah masih banyaknya daerah di negara tercinta ini yang memiliki hutan dengan kontur tanah yang menantang. Ini sebetulnya masuk akal, karena penggiat balap mobil reli sebetulnya lebih banyak daripada balap mobil sirkuit. Ini terbukti dari seringnya kalender balap reli Indonesia diadakan. Bahkan Indonesia sendiri sudah beberapa kali mendapat jatah seri reli Asia Pasifik, malahan di tahun 1995 kita menjadi tuan rumah satu seri WRC. Prestasi pebalap  reli Indonesia juga bisa dibanggakan, seperti yang sering ditorehkan Rifat Sungkar dan Richardo Gelael. Kalender balap reli dalam negeri juga terbilang rutin setiap tahunnya, diadakan di hampir setiap pulau—Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi. Untuk balap mobil reli, kebutuhan akan sirkuit permanen dapat dipenuhi dengan mudah selama ada duit dan lahan yang mencukupi. Lagipula, membangun sirkuit reli dengan kategori internasional tidaklah serumit persyaratan sirkuit F1.

Selain menggiatkan balap reli, Indonesia juga disarankan untuk berusaha menjadi tuan rumah balap mobil turing dunia,WTCC. Ini bisa dimulai dengann melakukan balap turing nasional secara rutin. Sayangnya, ada satu kendala dalam wacana ini. Sirkuit yang betul-betul layak untuk menggelar balap hanyalah Sentul, tidak ada yang lain. Padahal bibit pebalap mobil bukan cuma di Jawa saja. Masak iya ada kompetisi balap turing 9 kali setahun di tempat yang sama, bosan lah. Lagipula, kalau para pebalap hanya berkompetisi di satu jenis sirkuit saja, mereka cenderung jago di sirkuit itu saja. Begitu para pebalap ke sirkuit lain, mereka melempem karena berada di sirkuit berbeda. Jadi sebelum mengadakan kompetisi turing rutin, sebaiknya organisasi otomotif Indonesia membangun minimal 8 sirkuit balap standar internasional di pulau-pulau seperti Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi. Banyaknya sirkuit balap di Indonesia akan semakin mengasah ketrampilan pebalap lokal sehingga mereka tidak canggung saat menjajal sirkuit luar negeri. Tirulah Malaysia dan Thailand yang sanggup membangun banyak sirkuit balap di dalam negeri, padahal luas negara mereka lebih kecil dari Indonesia. Jangan pernah mengharapkan pemerintah untuk membangun sirkuit balap karena ini harusnya menjadi tanggung jawab pihak swasta. Membangun sirkuit balap permanen memang mahal tetapi modal pembangunan akan kembali lagi ke pihak swasta lewat acara balap rutin yang digelar dan pemasukan dari iklan dan sponsor. Kalau perlu, pihak swasta menggandeng perusahaan mobil, ban, atau oli untuk membangun sirkuit bersama. Dunia sepeda motor Indonesia saja sudah mulai membangun sirkuit balap motor permanen, meski dalam skala kecil, di Jawa, Palembang dan Kalimantan.

Dunia balap Indonesia memang menyimpan banyak potensi besar untuk bersaing dengan pebalap luar negeri. Yang kurang hanyalah dukungan serta kemauan dari dunia otomotif dalam negeri. Dalam hal kompetisi rutin, IMI dan promotor balap mobil selama ini sudah berada pada jalur yang benar dengan rutin mengadakan berbagai kompetisi balap mobil setiap tahunnya. Saran Jean Todt dalam kunjungan pendeknya di Indonesia kemarin sepatutnya menjadi renungan bagi mereka yang selama ini getol mengkampenyekan Indonesia sebagai tuan rumah seri F1. Buatlah prestasi terlebih dahulu, baru kita bicara F1 kemudian. Dan tahu dirilah, jangan bandingkan Singapura dengan kita. Prestasi balap Singapura memang nyaris minim, tapi semua tahu kalau Singapura berhasil menjual suatu proposal yang menarik, balap F1 jalan raya pada malam hari. Buat Indonesia, apa yang mau dijual? Hantu teroris masih bergentayangan dimana-mana. Tingkat ekonomi penduduk kitapun masih terlalu rendah untuk membeli tiket F1. Buat Malaysia, biarpun prestasi balapnya masih kalah mencorong dari kita, mereka sudah punya rekam jejak yang baik dan panjang dalam menggelar balap internasional, mulai dari MotoGP dan Superbike di Shah Alam hingga ke MotoGP& F1 di Sepang. Indonesia, sudah berapa kali kita menggelar seri MotoGP atau Superbike?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s