My Sentimental Nike Cortez (Black)

Saya yakin kita semua pasti memiliki perasaan sentimental terhadap benda-benda yang pernah kita miliki dulu, seperti, sepeda pertama, mainan, komik, boneka, jam tangan, tas, baju, mobil, sepatu dan masih banyak lagi. Tergantung dari kadarnya, perasaan sentimental itu tumbuh karena kenangan yang pernah kita miliki dengan benda tersebut. Sebagian dari kita masih mempertahankan benda tersebut sedang sebagian sudah terpisah dari barang kenangannya, karena rusak atau terpaksa harus berpisah. Dengan saya, perasaan sentimental itu terdapat pada sepatu kets Nike Cortez yang pernah saya miliki namun sudah saya buang.

Selain klasik dari segi sejarah, rancangan sepatu ini juga termasuk sederhana tapi abadi. Awalnya sepatu ini adalah sepatu lari hasil rancangan Bill Bowerman, seorang pelatih olahraga. Dari penampilah luar, sepatu terlihat tidak lebih dari sepatu kets biasa berwarna hitam dengan logo Nike “Swoosh” berwarna putih di sisi kiri dan kanan sepatu. Solnya juga sol karet biasa yang empuk dan permukaan sol yang sedikit bergerigi. Di bagian belakang sepatu, terdapat tulisan Nike sejajar dengan sisi mata kaki. Sebagai penghias tambahan, di tali sepatu terdapat benda logam yang telah digravir dengna tulisan “Cortez ’72”. Sepatu ini betul-betul  sederhana dalam penampilannya akan tetapi rancangan minimalis seperti inilah yang membuat penutup kaki ini tidak lekang dimakan waktu. Kapanpun dan dimanapun Anda memakainya, Anda akan selalu terlihat gaya dan sporty. Kelebihan lainnya, sepatu ini bisa digunakan untuk segala macam kegiatan yang ringan–berjalan-jalan di mal, berpesta, bersekolah, kuliah, bekerja, dst. Bicara penampilan, memang rancangan seperti Cortez inilah yang selalu abadi dan ini juga dimiliki oleh Adidas, Puma, Mizuno, dan lainnya. Sepatu hitam dengan logo di samping kiri dan kanannya.

Bagi saya pribadi, sepatu ini menjadi kenangan klasik akan sepatu Nike milik saya dulu, sewaktu saya masih murid SMA. Sepatu Nike Cortez saya itu memiliki bentuk dan rancangan yang menyerupai Nike Cortez baru, bahkan permukaan solnya pun sama. Dari segi warna, keduanya sama. Biarpun begitu, ada beberapa perbedaan seperti warna sol. Seingat saya, sepatu Nike saya memiliki telapak sol hitam sedang yang baru ini putih. Kemudian, di bagian tumit belakang sepatu edisi lama, terdapat tulisan “Nike” sejajar mata kaki dan di bawahnya tersua bordiran logo Nike. Pada rancangan baru ini, bordir logo itu ditiadakan. Dan perbedaan paling kentara ada pada bahan sepatunya. Yang baru saya beli ini memakai bahan kulit yang bagian luarnya licin sedangkan sepatu Nike lama saya memakai bahan suede. Dulu, sepatu Nike Cortez ini memang dikeluarkan dalam satu warna, hitam, namun dengan tiga pilihan bahan–kain biasa, suede, kulit mulus. Kala itu, saya membeli yang suede karena remaja Indonesia sedang dilanda demam sepatu Adidas Samba, yang juga menggunakan suede. Biarpun Samba lebih murah, Rp200.000 pada jamannya dan memiliki aneka pilihan warna (hitam, putih, coklat, hijau, atau merah), saya justru memilih Nike Cortez, Rp250.000 yang tersedia dalam satu warna saja, hitam. Di tahun 1996, harga tersebut termasuk mahal untuk ukuran sepatu sekolah. Namun, kesedehanaan tampilan dan rancangan yang membuat saya terpincut untuk memilikinya. Apalagi, warna hitam-nya membuat sepatu ini aman dipakai bersekolah. Dan jadilah saya membeli sepatu itu untuk bersekolah dan kemudian mengundang kekaguman dari teman sekolah hingga teman kursus. Bilang saya sombong, tapi saya yakin mereka yang memakai Samba pasti iri dengan Nike Cortez suede saya.

Nike Cortez milik saya dulu memberikan banyak kenangan. Saya memakai Nike tersebut cukup lama, 2 tahun lebih, sebelum akhirnya saya buang karena bagian depan sepatu sudah terkupas dan robek. Sepertinya, memang kelemahan suede ada pada kulit yang mudah koyak. Biarpun begitu, sepatu tersebut sudah mengiringi langkah saya ketika belajar di SMA hingga menjalani dua semester pertama di bangku kuliah. Saya memakai sepatu ini kala belajar dan berolahraga, berjalan-jalan ke mal, dan ketika saya menyatakan cinta untuk pertama kalinya pada seorang gadis bernama Ratih. Kini, saya melihat Nike meluncurkan kembali rancangan abadi tersebut untuk generasi baru remaja Indonesia. Terlepas dari sasaran penjualan, Nike Cortez versi pembenahan ini membangkitkan kembali kenangan lama  saya dan membuat saya berniat memilikinya lagi. Pertama kali saya melihat sepatu ini di Sogo Plaza Senayan, tahun 2007. Saya senang sekali saat melihatnya, sembil tersenyum-senyum sendiri. Tapi harganya yang Rp700.000 lebih, membuat saya hanya mengaguminya saja. Kini, sepatu yang saya pikir sudah ditarik dari peredaran ternyata masih dijual, dengan harga jual serendah …, yah cari tahu sendiri deh. Kali ini, saya tidak mau mengagumi saja dan berusaha untuk membelinya.

Mungkin orang-orang beranggapan saya membuang-buang uang untuk sebuah sepatu biasa. Yang pasti, Nike Cortez menjadi sebuah sepatu sentimental karena pernah menjadi bagian kehidupan saya. Dan kali ini, saya memilih versi kulit dan akan berusaha keras untuk merawat dan menjaga sepatu ini agar bisa berumur lebih panjang dari saudaranya dulu.🙂

4 responses to “My Sentimental Nike Cortez (Black)

  1. aye jg pny bang yg edisi 72 gt wrna blue navy.. ga cm bkin ngri orng2 yg ngliat, bahkan ad tmn yg brsumpah bkal nyolong tu sepatu krn ud pegel maksa gw bwt ngjual tu spokat😀 kl mnrut analisa sih, ank muda skrng lg addict k’style mexico (chicano) yg notabene style mreka pk cortez am kaos kaki panjang..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s