Keselamatan Bersepeda

Dua hari lalu, saya beru saja berjumpa dengan kenalan lama di dunia maya. Kami  bertemu berkat Google, terima kasih Brin dan Larry. Saya tidak akan merinci seperti perjumpaan tersebut tetapi ada satu hal menarik yang membuat teringat kembali pada salah satu impian saya yang belum terwujud, memiliki sepeda sendiri. Lewat korespodensi surel, dia menanyakan apakah saya sudah membeli sepeda yang saya impikan. Dengan berat hati, saya jawab belum. Membeli sepeda dan segala kelengkapannya bukanlah hal yang sulit. Yang menjadi halangan sementara adalah belum laginya saya menemukan peralatan keselamatan yang sesuai. Dengan latar belakang sebagai pengendara motor, saya tidak setengah-setengah isu keselamatan berkendara. Tertarik oleh korespondensi itu, saya pun memutuskan untuk menulis artikel tentang hal yang satu ini. 

Untuk empat tahun terakhir, jalan-jalan raya di Jakarta mulai  dilalu-lalangi oleh pengendara sepeda, masih dalam jumlah kecil. Ini dipicu oleh kampanye Bike to Work yang bertujuan mengurangi kemacetan di jalan raya dan polusi udara. Di tahun pertama, kampanye ini dinilai cukup sukses karena berhasil mengumpulkan ratusan pengendara sepeda, mulai dari pekerja kantor hingga pelajar. Sayangnya, jumlah pengendara sepeda ini mulai menurun karena berbagai alasan seperti kehilangan antusiasme, terpincut dengan kendaraan pribadi (mobil atau sepeda motor), dan merasa kurang aman. Khusus yang terakhir, banyak pengendara sepeda yang merasa dirinya terancam oleh intimidasi pengguna kendaraan bermotor saat melaju di sela-sela kemacetan jalan. Intimidasi yang mereka alami berupa hardikan (karena laju sepeda yang lambat menghalangi kendaraan bermotor), senggolan tidak sengaja, serempetan hingga tabrakan. Statistik mencatat banyak kasus kecelakaan lalu lintas yang menimpa banyak pengendara sepeda. Padahal, selama pengendara sepeda ini mau, mereka dapat melengkapi diri dengan peralatan keamanan seperti helempelindung badan,dan sarung tangan yang akan berujung pada peningkatan kepercayaan diri.

Helem sepeda adalah hal yang harus dipakai oleh pengendara sepeda manapun dalam kondisi apapun. Secara umum, helem berfungsi melindungi kepala pemakainya dari hantaman benda tajam seperti batu kerikil, percikan air, ranting, dan lainnya. Selain itu, helem mampu mengurangi efek benturan pada kepala seandainya si pengendara terjatuh dari sepedanya dan kepalanya menghantampermukaan jalan.

Lazimnya, helem sepeda berbentuk setengah bulat dan sekedar menutupi batok kepala. Hanya saja, helem pengendara sepeda tidak sepenuhnya tertutup karena di tengah terdapat lubang-lubang ventilasi yang dibuat untuk mengeluarkan hawa panas dari kepala pemakainya. Dalam pemakaian normal seperti berkendara dalam hutan, trail riding, ataupun di sekitar perumahan, helem ini sudah mencukupi. Namun, di jalan raya Jakarta yang terkenal “ganas”, helem yang dipakai sebaiknya yang menutup seluruh kepala, full face. Ini dikarenakan kebiasaan pengguna kendaraan bermotor di Jakarta yang terkenal agresif dan tidak tertib. Helem yang baik dipakai di jalan raya Jakarta sebaiknya adalah helem BMX atau Downhill yang menyerupai helem pengendara sepeda motor trail karena diyakini bila helem ini mampu melindungi dan mengurangi benturan kepala saat mengalami kecelakaan seperti tabrakan atau senggolan keras dengan mobil atau sepeda motor.

Sarung tangan adalah satu hal yang penting bagi pengendara sepeda namun sering diabaikan. Dari pengalaman sebagai pengendara motor, sarung tangan bermanfaat sekali untuk mempererat genggaman tangan di stang saat berkendara. Sebaiknya pakai sarung tangan kulit atau kulit sintetik karena itu cukup lengket dengan selongsong stang yang biasanya terbuat dari karet. Manfaat sampingannya, sarung tangan akan menghangatkan tangan saat sedang melaju di jalan raya, apalagi saat cuaca menjadi dingin. Selain itu, saat mengalami kecelakaan, benda ini dapat mengamankan telapak tangan saat terjatuh, jenis kecelakaan yang paling umum dari pengendara roda dua. Seandainya Anda tidak ingin kulit tangan tergores atau terkelupas hingga berdarah, sebaiknya benda kecil ini jangan dianggap remeh. Saat Anda membelinya, hindari sarung tangan yang tipis karena itu tidak menawarkan perlindungan apapun. Bagi mereka yang rewel dengan penampilan, pilihan model dan warna bisa disesuaikan dengan selera pribadi.

Pengendara sepeda di Jakarta wajib mengenakan alat pelindung badan. Kepala dan tangan terlindung baik. Bagaimanakah dengan badan? Jaket sepeda ataupun kaus lengan panjang saja tidak mencukupi. Alasan untuk hal ini, sekali lagi, adalah sifat alamiah lalu lintas Jakarta yang agresif dan hampir “tidak” mengenal belas kasihan. Latar belakang saya sebagai pengendara motor memberikan banyak pengalaman seperti apa bahayanya perilaku pengguna jalan di kota besar ini. Jika di kota-kota besar di luar negeri terdapat pembatasan kecepatan dalam kota, 30-50 km/jam, di Jakarta pembatasan kecepatan sama sekali tidak dikenal. Kalaupun ada, hal itu tidak pernah dipatuhi. Seperti yang sudah kita lihat, laju kerndaraan di dalam Jakarta ataupun di luar Jakarta sama saja, 50-80 km/jam. Bila di Tokyo, New York, atau Paris, mobil dan sepeda motor melaju pada jalur masing-masing, hal tersebut hanyalah impian di ibukota Indonesia. Di Jakarta, jalur lambat tidak eksis karena kendaraan di semua jalur melaju cepat dan berganti jalur sesuka hatinya. Mengerikan bukan. Kecelakaan jalan raya di Jakarta termasuk tinggi dan memiliki resiko dari lecet kulit hingga kematian di tempat. Pelindung badan seperti pengendara downhill atau pebalap sepeda motor sangatlah baik dalam mengurangi resiko cedera parah seperti patah tulang. Dalam tingkat sederhana, alat pelindung badan yang perlu dipakai berupa pelindung lengan dan lutut. Jika ingin yang lebih aman lagi, Anda dapat membeli pelindung badan berupa jaket pelindung yang terbuat dari kain dan busa atau busa dan plastik. Semuanya dapat menurunkan resiko luka parah manakala pengendar sepeda mengalami kecelakaan.

Perlengakapan keamanan berkendara–helem, sarung tangan dan pelindung badan–adalah hal yang wajib dimiliki oleh setiap pengendara sepeda. Dengan memakai itu semua, saya jamin kepercayaan diri pengendara sepeda akan meningkat karena ia tahu dirinya aman. Lagipula, dengan penampilan yang demikian rupa, saya yakin pengendara sepeda motor akan berpikir 10 kali sebelum cari gara-gara. Apakah usulan saya berlebihan? Tidak! Tidak ada istilah berlebihan jika sudah bicara keselmatan. Sebagai orang yang pernah terjatuh dari sepeda motor sebanyak lima kali dalam setahun, saya tahu betul apa yang saya bicarakan.

Kunjungi laman-laman berikut ini jika Anda tertarik untuk meningkatkan keamanan dan kenyaman berkendara dengan sepeda.

Six Six One

Troy Lee Design

THE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s